Bandung (pilar.id) – Sakit yang diderita Isyana Sarasvati cukup mengejutkan banyak pihak. Lewat unggahan di instagram, penyanyi dan musisi berbakat ini mengaku jika dia menderita penyakit autoimun, tepatnya SLE atau Systemic Lupus Erythematosus.
Dihimpun dari berbagai sumber, diketahui jika SLE, atau lupus, dikenal sebagai penyakit autoimun kronis yang dapat mempengaruhi berbagai organ dan jaringan dalam tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, paru-paru, dan sistem saraf.
Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan.
SLE lebih umum terjadi pada wanita, terutama pada usia subur. Penyebab pasti SLE belum sepenuhnya diketahui, namun faktor genetik, hormonal, dan lingkungan diyakini memainkan peran.
Gejala SLE bervariasi dan dapat muncul dan hilang selama periode waktu yang berbeda. Gejala umum meliputi ruam kulit, rasa sakit pada sendi, kelelahan, demam, sakit kepala, dan penurunan berat badan yang tidak diinginkan.
Gangguan kesehatan ini dapat memengaruhi organ dalam tubuh, seperti ginjal, jantung, dan sistem saraf, sehingga dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati.
Sejumlah pakar kesehatan dunia sangat concern pada Lupus. Seperti Dr. Noel R. Rose, ahli imunologi dan peneliti di Johns Hopkins University yang telah melakukan penelitian dan pengembangan di bidang autoimun selama lebih dari 50 tahun.
Lalu Dr. Betty Diamond, ahli reumatologi dan peneliti di The Feinstein Institutes for Medical Research yang telah melakukan penelitian dan pengembangan untuk lupus dan penyakit autoimun lainnya. Kemudian Dr. David Hafler dari Yale School of Medicine, Dr. Mark Davis dari Stanford University School of Medicine, dan Dr. Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat (National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIAID).
Mereka rata-rata bersepakat jika SLE mesti didiagnosis melalui kombinasi tes darah, pemeriksaan fisik, dan evaluasi gejala dan riwayat medis. Pengobatan SLE melibatkan penggunaan obat anti-inflamasi, kortikosteroid, obat DMARD, dan obat biologis, serta terapi fisik dan pengobatan alternatif.
Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan SLE sepenuhnya, pengobatan yang tepat dan perubahan gaya hidup dapat membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Perubahan gaya hidup dapat membantu mengelola gejala dan mencegah terjadinya komplikasi pada penderita SLE. Berikut beberapa perubahan gaya hidup yang dapat membantu.
Istirahat yang cukup
Penderita SLE perlu istirahat yang cukup dan menghindari kelelahan. Tidur yang cukup dapat membantu mengurangi gejala kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup.
Olahraga teratur
Olahraga teratur dapat membantu meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot, meningkatkan sirkulasi darah, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Namun, penderita SLE perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program latihan untuk memastikan bahwa olahraga yang dilakukan aman bagi kondisi tubuh.
Nutrisi seimbang
Penderita SLE perlu makan makanan yang seimbang dan bergizi untuk menjaga kesehatan tubuh dan mengurangi risiko komplikasi. Diet sehat dapat membantu mengurangi peradangan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Hindari paparan sinar matahari berlebihan
Paparan sinar matahari dapat memicu gejala SLE pada sebagian penderita. Oleh karena itu, penderita SLE perlu menghindari paparan sinar matahari berlebihan dan menggunakan tabir surya dengan faktor perlindungan tinggi ketika berada di luar rumah.
Kurangi stres
Stres dapat memperburuk gejala SLE pada sebagian penderita. Penderita SLE perlu mencari cara untuk mengelola stres, seperti dengan meditasi, yoga, atau terapi bicara.
Meski demikian, perubahan gaya hidup ini tetap perlu dikonsultasikan dengan dokter yang memang khusus menangani autoimun. (ret/hdl)




