Manado (pilar.id) – Gunung Karangetang di Sulawesi Utara, kembali menunjukkan aktivitas yang meningkat, sehingga Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan awan panas guguran.
Laporan evaluasi periode 9 hingga 15 Juni 2023 menunjukkan, data seismik menunjukkan bahwa aktivitas gempa guguran masih tinggi.
Dalam kurun waktu tersebut, Badan Geologi mencatat sebanyak 581 kali gempa guguran, di samping gempa-gempa lainnya yang terjadi.
Meskipun tidak terjadi awan panas guguran pada periode tersebut, tetapi kemungkinan terjadinya perlu diwaspadai, terutama ke arah selatan, seperti Kali Kahetang dan Kali Batuawang.
Kepala Badan Geologi, Sugeng Mujiyanto, mengingatkan bahwa adanya potensi awan panas guguran karena masih ada kubah lava lama di puncak gunung yang sewaktu-waktu dapat rubuh bersamaan dengan keluarnya lava. Awan panas guguran ini terjadi akibat dari penumpukan material lava yang gugur atau longsor.
Sugeng juga mengungkapkan bahwa erupsi efusif Gunung Karangetang masih terus berlangsung. Lava mengalir dari bagian barat daya gunung dan kawah utama mengarah ke Kali Batang, Timbelang, dan Beha barat dengan jarak luncur sekitar 1.000 meter. Sementara itu, arah selatan meliputi Kali Batuawang dan Kali Kahetang dengan jarak luncur sekitar 1.500 meter.
“Erupsi efusif masih terjadi secara berkesinambungan. Data visual menunjukkan bahwa aktivitas luncuran lava masih terfokus ke arah barat daya dan selatan, dengan jarak luncur maksimum sekitar 1.500 meter dari kawah utama,” jelas Sugeng.
Perlu diketahui bahwa pada 26 April 2023, Badan Geologi menurunkan status Gunung Karangetang menjadi Waspada level II setelah sebelumnya dinaikkan menjadi Siaga level III pada 8 Februari 2023.
Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, diharapkan tetap mewaspadai kemungkinan awan panas guguran yang dapat terjadi akibat aktivitas gunung ini. (hdl)


