Surabaya (pilar.id) – Berawal dari kaloborasi antar beberapa jurusan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12 Surabaya, dengan memadukan sebuah tarian yang di kaloborasikan dengan wayang dari jurusan Pedalangan serta di rekam apik oleh jurusan film.
Membuat hasil rekaman menari dikelas tersebut akhirnya diupload di sebuah aplikasi video bernamaTiktok ini mencuri banyak perhatian masyarakat dan membuatnya viral, hingga di undang di salah satu Televisi Nasional di Jakarta.
Berdasar keterangan Abing Susanto, guru di jurusan tari yang juga turut berada di video berdurasi satu menitan tersebut, ide dalam pembuatan video kolaborasi tersebut hadir berdasar ide dari anak-anak didik tarinya
“Konsep video itu muncul dari anak didik sendiri, saya hanya sebagai pemantik, dari mulai bertanya tujuan, visinya, caranya dan setelah itu bagaimana, saya membebaskan mereka. Tetapi saya juga tetap mengajari mereka menari,” ujarnya.
Abing nama panggilannya, menceritakan jika dirinya mulai mengajar di SMKN 12 Surabaya di tahun 2016 hingga sekarang. Meski di dua tahun awal, ia mengajar tari karena pengabdian tanpa dibayar. Namun dirinya masih tetap konsisten mengajar tari.
“Saya mulai mengenal tari sejak tahun 2010, saat saya kelas akhir di SMK ini juga. Dari situ saya menekuni terus dunia tari dan saat ini saya mengajar juga disini. Meski masih berstatus guru honorer sejak tahun 2018,” ceritanya
Dalam melakukan latihan, Abing yang saat ini hanya mengajar kelas 12 menyebut latihan biasanya dilakukan hanya satu jam latihan, lalu jika anak didiknya ingin merekam hasil latihan maka akan langsung direkam.
“Video viral itu, yang menari anak kelas 11 sebagai pengisi waktu, karena anak kelas 12 sudah lulus, jadi saya mencari kegiatan. Latihannya spontanitas, kita take video itu agar ide dapat tersampaikan. Takenya bisa dilakukan keesokannya atau saat itu juga,” terangnya.
Ia juga kerap mengikutsertakan anak didiknya untuk berlomba, seperti pada lomba yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berhasil menyabet juara 2 se Nasional.
Ketika di temui Pilar.id di SMKN 12 Surabaya, Abing menjelaskan jika selama ia mengajar, dirinya tidak memakai metode ceramah atau sekedar menyampaikan teori lalu selesai dan pulang yang membuat siswa merasa bosan.
Namun ia menerapkan metode menuntun kodrat anak, ia menyebut itu ada 3 point yaitu berbagi, berubah dan berkaloborasi, yang artinya berbagi dengan pola pikir antara guru dan murid, mau berubah dan mengkaloborasikan keduanya, yaitu pola pikir atau ide dengan aksi dengan tujuan yang ingin dicapai dengan versinya.
Tak hanya itu, Abing juga menerapkan metode menyenangkan, dengan lebih merangkul anak dan menciptakan ruang-ruang yang menyenangkan bagi anak. Sehingga murid-murodnya yang memiliki potensi dan keahlian harus digali
“Mereka harus benar-benar digali tanpa diseragamkan. Kita sebagai pendidik atau guru harus mematik ide-ide dari anak, sehingga anak itu bisa nyaman, aman dan menyenangkan, yang akhirnya membuat anak-anak akan merasa bahagia dengan sekolah,” pesan pria yang saat ini tengah menempuh S2 di Unitomo, jurusan Teknologi Pendidikan ini. (jel/hdl)




