Sleman (pilar.id) – Paduan keindahan karya dengan beragam motif dari eco-print menjadi alternatif baru dalam dunia mode. Eco-print merupakan proses menciptakan sebuah kain bermotif tumbuhan yang indah, natural dan ramah lingkungan yang berasal dari tanaman asli. Teknik ini, mempertahankan warna dan bentuk dari tumbuhan yang menjadi motifnya.
Salah satu pengrajin eco-print asal Kabupaten Sleman, Jati Muti mengatakan dalam proses pembuatannya, eco-print terbagi menjadi dua teknik yakni pounding dan teknik iron blanket. Teknik pounding merupakan cara menempelkan warna daun ke kain menggunakan palu dengan cara dipukul.
“Sementara teknik iron blanket, daun-daunnya kita rendam baru ditempelkan di kain. Prosenya, diawali dengan scoring atau cuci pakai deterjen pakai pemutih, setelah bersih di mordan atau diberi tawas agar pewarnaan merata, setelah itu baru kita tata daun dan di atasnya ditutup kain,” kata Jati, Selasa (1/11/2022).
Kemudian, kain tersebut digulung dengan pipa paralon dan diikat dengan tali. Selanjutnya, kain dikukus selama dua jam dan dibentangkan di meja untuk mengambil daun-daun secara perlahan, lalu kain tersebut dikeringkan dengan cara dianginkan. Selanjutnya, kain siap jahit menjadi aneka kerajinan seperti baju, tas, topi, kalung dan beragam kerajinan lainnya.
Jati menyebut, semua warna dan motif eco-print berasal dari bahan alami dari bermacam tumbuhan maupun bunga, seperti daun Lanang, Jati, Secang, hingga Gambir. Menurutnya, daun Lanang memiliki bentuk motif daun yang bagus dan menimbulkan warna sehingga produk memiliki nilai jual tinggi, selain itu dalam proses penyusunannya, Jati mengaku tidak menggunakan pola.
“Eco-print itu seni menata daun, daun yang banyak mengandung tannin atau sari-sari yang ada di daun yang bisa menimbulkan warna, saya sekarang bikin eco-print pakai daun Lanang, tanpa ranting tapi daunnya bagus banget. Eco-print ini pakai pola bisa, tapi biasanya sesuka hati. Kalau saya prinsipnya yang penting penuh, untuk ngawekani (mengantisipasi) kalau ada daun yang tidak muncul,” jelasnya.
Jati mengatakan, usaha yang digeluti sejak dari tahun 2018 ini, dimulai dari ketertarikannya pada pembuatan beragam teknik dan karya dengan mengikuti pelatihan dan belajar semua teknik mulai dari sibori, jumputan, hingga akhirnya tertarik untuk mendalami eco-print.
“Hingga akhirnya, sekarang gantian saya yang melakukan pelatihan bagi masyarakat yang tertarik belajar teknik eco-print,” ucapnya saat ditemui di gelar Kelurahan Budaya se-Kabupaten Sleman, di Kelurahan Margoagung, Seyegan. (riz/din)

