Jakarta (pilar.id) – Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2022 berada di kisaran 4,85 persen.
Terlepas dari disrupsi akibat varian Omicron di awal tahun 2022, kata dia, kuartal I-2022 masih menunjukkan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan performa yang baik dari neraca perdagangan.
“Pertumbuhan PDB di kuartal I-2022 diestimasi berkisar 4,85 persen. Estimasi tersebut dari 4,75 persen hingga 4,95 persen. Terlepas dari berbagai tantangan, kami masih berpandangan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2022 akan kembali ke level pra-pandemi di kisaran 5 persen,” kata Riefky, Jumat (6/5/2022).
Prediksi tahun ini yang telah disampaikan tersebut, menurut Riefky sangat berlawanan dengan prediksi di awal tahun lalu. Apalagi ketika itu, perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih di 2021 dan belum kembali mencapai tingkat pertumbuhan pra-pandemi.
Mengakhiri 2021 dengan tingkat pertumbuhan PDB sebesar 5,02 persen year on year (yoy) di kuartal IV-2021, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2021 tercatat sebesar 3,37 persen (yoy). Berbagai gelombang varian covid-19 menjadi penghambat proses pemulihan ekonomi sepanjang 2021.
Lebih lanjut, performa sektoral mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi di akhir tahun 2021 telah kembali ke tren peningkatan setelah mengalami penurunan di kuartal III-2021 akibat disrupsi dari varian Delta.
Beberapa sektor unggulan perekonomian Indonesia, seperti manufaktur, perdagangan besar dan eceran, dan pertanian tumbuh pesat di kuartal IV-2021, menunjukkan perbaikan di aktivitas produksi, permintaan rumah tangga, dan daya beli masyarakat.
Selanjutnya, dua sektor yang paling terdampak selama pandemi, yaitu transportasi dan pergudangan dan akomodasi dan makanan minuman, juga mengalami pertumbuhan tinggi di kuartal akhir 2021 akibat penanganan pandemi yang baik sehingga memungkinkan masyarakat untuk melakukan perjalanan dan aktivitas hiburan.
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen konsumsi rumah tangga juga mencatatkan pertumbuhan yang positif dalam tiga bulan terakhir di tahun lalu. Berkontribusi terhadap lebih dari setengah perekonomian Indonesia, konsumsi tumbuh sebesar 3,55 persen (yoy) dan pengeluaran pemerintah meningkat sebesar 5,25 persen (yoy) di kuartal IV-2021, sebagai hasil dari percepatan realisasi belanja negara.
Per 31 Desember 2021, realiasi belanja pemerintah tercatat sebesar 101,34 persen dari anggaran 2021 atau sebesar Rp2.786,76 triliun. Di saat yang sama realisasi belanja Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tercatat sebesar Rp658,6 triliun di akhir tahun atau 88,4 persen dari total anggaran PEN sebesar Rp744,77 triliun, meningkat 53 persen dari realisasi di 17 September 2021.
Dari sisi investasi, realisasi investasi tercatat sebesar Rp282,4 triliun selama kuartal I-2022 atau meningkat sebesar 28,5 persen (yoy), mencapai tingkat tertingginya dalam sepuluh tahun belakangan. Penanaman modal asing (PMA) tumbuh 31,8 persen hingga menjadi Rp147,2 triliun, sebagian besar didorong oleh sektor logam dasar, barang hasil logam, dan pengolahan peralatan.
Di sisi lain, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp135,2 triliun atau tumbuh sebesar 25,1 persen yang dikontribusi oleh sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Walaupun volume perdagangan global menurun sebagai imbas diterapkannya sanksi oleh negara-negara EU dan AS sebagai buntut perang Rusia-Ukraina, lonjakan harga komoditas mendorong dampak positif terhadap keseluruhan neraca dagang Indonesia, yang mencatatkan surplus USD9,33 miliar di kuartal I-2022.
Surplus tersebut lebih tinggi 20 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Surplus ini didorong oleh harga komoditas, terutama batubara dan CPO. Kombinasi surplus perdagangan dan adanya arus modal masuk mendorong stabilnya nilai tukar Rupiah.
Memasuki 2022, Indonesia menghadapi berbagai tantangan domestik dan mancanegara. Kombinasi dari tekanan internal dan eksternal telah memicu risiko inflasi di tengah pemulihan ekonomi. Faktor pull dari sisi permintaan telah mendorong naiknya daya beli seiring meningkatnya aktivitas produksi, mobilitas masyarakat, dan pecahnya pent-up demand.
“Di sisi lain, faktor push dari peningkatan harga bahan baku menekan daya beli masyarakat. Walaupun belum termaterialisasi di angka inflasi sejauh ini, tekanan inflasi sudah terlihat dari kedua faktor tersebut,” ujarnya. (her/fat)

