Surabaya (pilar.id) – Zaman sudah sangat berubah. Lebih terbuka, lebih modern. Orang makin berani berekspresi, termasuk saat bilang, “Saya ingin nikah sama bule!”
Sentilan ini, sebagian muncul karena didasari niat yang yang sungguh-sungguh; ingin memperbaiki keturunan. Beneran?
Menanggapi fenomena ini, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD memberikan pendapatnya. Kata dia, ambisi untuk memperoleh keturunan blasteran merupakan pengaruh pasca kolonialisme yang masih melekat di masyarakat Indonesia.
“Anggapan bahwa kulit putih menandakan status sosial yang tinggi disebabkan oleh para penjajah barat yang berkuasa dan mengubah tatanan sosial dengan paham the construction of whiteness, dimana kulit putih memiliki kelas sosial yang lebih superior dari pada ras lainnya,” jelas Kepala Pusat Bahasa dan Multibudaya Unair ini.
Dikatakan pula, langgengnya konstruksi pada masyarakat modern ini memberi dampak bagi seseorang yang ingin mendapat keturunan blasteran.
Pernikahan dengan warga negara asing, katanya, seolah jadi jalan paling mudah untuk mendapatkan keturunan blasteran.
Tapi menurut Prof Diah, ternyata tidak hanya masyarakat Indonesia saja yang terobsesi menikah dengan warga negara asing, dalam hal ini yang berkulit putih.
Beberapa warga negara lain, ras lain, juga ada yang merasakan hal sama. Hal ini diperkuat fakta di masa lampau, bangsa kulit putih sebagai penjajah muncul di banyak wilayah.
Industrialisasi Konsep Kecantikan
Prof Diah menyebut, salah satu pengaruh pasca kolonialisme adalah label kecantikan. Katanya, mereka yang cantik adalah mereka yang memiliki kulit putih, badan tinggi atau tegap, hidung mancung, khas ciri fisik ras kaukasoid.

Adanya ciri fisik yang mirip dengan kelompok masyarakat blasteran, kata Prof Diah, akan memudahkan mereka untuk lebih diterima.
Padahal penduduk asli Indonesia didominasi ras malayan-mongoloid, melanesoid, asiatic-mongoloid, dan weddoid yang memiliki ciri fisik sangat berbeda dengan ras kulit putih.
“Dampaknya, pasar produk pemutih kulit pada industri kecantikan sangat diminati. Karena bagi masyarakat, indikator utama kecantikan adalah kulit yang putih berseri yang mendambakan konsep kecantikan ideal barat,” terang Prof Diah.
Diakui pula, bagi warga Indonesia, kelompok bule khususnya kaukasoid, mampu menciptakan tren baru yang terkesan selalu jadi perhatian.
Padahal pada masa penjajahan dulu, ras kaukasoid justru dianggap sebagai musuh. Perawakannya mirip penjajah, terkesan objek yang negatif.
Namun kini, sebaliknya, muncul glorifikasi bule di tengah masyarakat. Bahwa bule adalah pusat perhatian.
“Cerita mahasiswa asing, khususnya mereka berasal dari Afrika dan India. Mereka cenderung sulit mendapat teman dan sulit bergaul daripada mahasiswa internasional lainnya dengan kulit putih yang justru lebih sering diajak bercengkrama terlebih dahulu oleh mahasiswa Indonesia,” tutup Diah.
Nah, dengan penjelasan ini, masih berpikir untuk menikah dengan warga negara asing? (hdl)










