Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Rano Karno Resmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan Uji Coba Open Dining, Perkuat Wisata Kota Tua
  • Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih, Tarif Maksimal Rp5.000 Kini Diawasi Ketat
  • BNI Dukung Festival Seni & Bazaar MSI 2026, Perkuat Pelestarian Budaya, UMKM, dan Ekonomi Kreatif Indonesia
  • Pramono Anung Dukung JF3 2026, Perkuat Ekonomi Kreatif Jakarta Menuju Kota Global
  • Tantangan Pola Asuh Generasi Alpha: Pakar UNAIR Imbau Orang Tua Jadi Digital Mentor
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Glinka dan Rindu Damai yang Tak Terencana

Glinka dan Rindu Damai yang Tak Terencana

Esai Hendro D. Laksono21 Desember 2021
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Membuka catatan lama, lalu bertemu Prof. Dr. Habil Jozef Glinka SVD. Transkrip wawancara, 19 tahun silam. Wawancara sederhana, kaya pesan, dan sangat artistik.

Betapa tidak. Untuk wawancara, ia mengajak ngobrol di ruang kerjanya yang, waktu itu, lebih mirip bursa buku bekas.Tumpukan buku tebal, sebagian besar tak pernah ada dalam daftar peprustakaan pribadi di rumah, perabot kayu, dan cahaya lampu seadanya. Hanya beberapa sisi yang nampak benderang, yang kemudian digunakan Mamuk Ismuntoro, fotografer, kawan saya, untuk mengabadikan momen istimewa.

Prof Glinka, demikian ia akrab disapa, bercerita banyak hal tentang harapan dan ketakutan. Tentang bom yang meluluh lantakkan banyak logika, kematian, dan perdebatan tentang agama entah milik siapa.

Jelang Natal, saya berencana membuat catatan penting. Bukan dalam perspektif religi, tapi dari kacamatanya. Pengembaraan kata berujung di keprihatinan dan tanya. “Tahun 2002 seperti berakhir di titik anti klimaks. Sejak awal memang ada yang tidak beres di negeri ini,” kata dia.

Bukan semata Tragedi Bom Bali, tapi juga serial yang berjalan selama bertahun-tahun. Diawali badai moneter yang menghajar beberapa negara pada tahun 1997. Hingga perlombaan negara-negara terdampak yang bangkit dan bisa kembali normal.

Hendro D. Laksono, Redaktur Pelaksana Pilar.ID

Prof Glinka menyebut, Indonesia punya kesulitan untuk itu. Belajar dari beberapa negara tetangga yang punya aturan tegas untuk mengatur kehidupan masyarakat agar lebih tenang dan lebih baik. “Sedangkan di Indonesia, kondisi yang menjamin ketenangan tidak ada. Sekarang tenang, besok ada bom.” katanya waktu itu.

Prof Glinka tentu tidak sedang mengumbar syahwat berburuk sangka apalagi mengadili. Tapi rentetan tragedi itu kelewat gamblang untuk disimpulkan. Membandingkan peristiwa sekarang dan kemarin, lalu membuat simpul. Mengapa di beberapa kasus, pelaku perusakan gereja tidak ketemu? Sementara peristiwa Bali yang menggoncang akal sehat masyarakat Indonesia dan internasional, beberapa saat saja, aparat keamanan bisa menangkap pelakunya.

Tragedi seringnya tak bermuara pada hal-hal ideologis kecuali kekerasan itu sendiri. Ini tak berhubungan dengan agama, bukan pula gerakan anti Amerika atau kapitalisme.

Sayang, kita tak pernah sungguh-sungguh memiliki energi yang berangkat dari kesadaran. Untuk melihat persoalan secara benar bahkan mendasar. Kepentingan politik, ah, bosan benar menyebut ini, disebutnya sebagai kerangka dasar atas banyak hal.

“Ya, saya curiga ada rekayasa di sana. Saya dengar, banyak oknum yang suka potong di sana-sini. Masalah tertentu yang bisa diselesaikan keburu di sambar masalah lain. Akibatnya, aparat bingung,” kata Prof Glinka.

Ia kemudian mengajak bicara tentang kemungkinan. “Sekarang saya bertanya, apa maksud peledakan itu? Kalau gerakan anti Amerika, ternyata korban orang Amerika malah hanya dua orang. Kalau dasarnya agama, apa itu dibenarkan? Tak ada agama yang mengajarkan hal seperti itu. Kita semua tahu, justru setan-lah yang suka merusak, menebar kebencian, membunuh atau menghancurkan. Jadi susah mencari alasan yang sesungguhnya,” jelas dia.

Lalu saya pun ingat guyonan lama. Segala barang bagus, jika ada tangan kekuasaan di belakangnya, pasti jadi tidak menarik. Entah karena alasan profesionalisme, atau niat ingsunnya.

Logika berat. Dan Prof Glinka, lelaki kelahiran Chrozow, Polandia, 7 Juni 1932 itu beberapa kali berhenti bercerita. Mingkin sedang menata pembicaraan agar lebih mudah dimengerti, yang jelas bukan cari aman. Ya, dia bukan model orang yang suka cari aman.

Bicara perjalanan hidup, anak pertama dari tiga bersaudara ini kenyang melintas di jalan pedang. Sebelum menempuh pendidikan di sekolah seminari SVD Polandia pada 8 Mei 1946, ia sudah jadi saksi pergolakan sosial dan politik di Eropa Timur. Lalu perjalanan religinya pada 1951-1957, saat masuk novisiat dan mengucapkan kaul pertama pada tahun 1951. Pada bulan Februari 1957, ia mengucapkan kaul kekalnya dan ditahbiskan jadi imam pada 7 Juli 1957. Ia mulai dikenal sebagai Pater Josef Glinka.

Tahun 1964, ia mendapat gelar master dalam bidang Biologi dan mulai mengajar Ilmu Filsafat Alam di Seminari Tinggi SVD di Pieniez. Setahun kemudian, bersama 20 misionaris lainnya, Josef Glinka berangkat ke Jakarta pada 27 Agustus 1965, beberapa minggu sebelum tragedi kemanusiaan terburuk di Indonesia.

Sayang, kita tak pernah sungguh-sungguh memiliki energi yang berangkat dari kesadaran. Untuk melihat persoalan secara benar

“Saya merokok sejak di Indonesia, tahun 1966-1967. Di sebuah tempat, saya dipaksa merokok. Ada pilihan rokok dan sirih pinang sebagai bentuk penghormatan dari pemilik rumah. Saya pilih rokok. Padahal asal tahu saja, semasa sekolah, saya satu-satunya siswa yang tidak merokok. Sedangkan di Polandia ada pameo, ‘Suka rokok silahkan merokok. Dan terima kasih, saya bukan wanita’,” kenangnya.

November 1968, Prof Glinka berangkat ke Polandia untuk menulis disertasi. Juli 1969, ia mendapat gelar Doktor. Setelah operasi pengeluaran batu empedu di Belanda tahun 1971, ia kembali ke Ritapiret, Maumere, Flores. Tak lama datang permintaan dari Universitas Katolik Atmajaya untuk jadi dosen. Pada saat bersamaan, ia juga diminta jadi dosen di Universitas Nusa Cendana di Kupang. Aktifitas ini di jalani tahun 1971-1973.

Sembilan tahun kemudian ia menyelesaikan studinya di Universitas Jagiellonian di Krakow, Polandia. Universitas tertua di Polandia ini mensahkan namanya sebagai guru besar. Universitas yang sama pernah digunakan Paus Johanes Paulus sebagai tempat belajar dan mengajar sebagai profesor. Saat ditawari jadi pengajar di Zurich, ia malah terbang ke Indonesia.

Lalu 1984, Prof Glinka pindah ke Universitas Airlangga. Selain mengajar di Jurusan Antropologi, ia juga membantu pengembangan ilmu kedokteran forensik.

Kemudian Natal tahun ini sudah tinggal menghitung hari. Ingatan pada Prof Glinka tiba-tiba muncul dengan banyak pesan. “Malaysia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Saya nyaris tidak pernah mendengar ada perang antar umat beragama di sana. Ada apa di sini? Seperti saya bilang di awal, ini puncak atau bagian dari serial yang berjalan bertahun-tahun. Indonesia tak bisa keluar dari lobang ini,” katanya saat itu.

Tanggal 30 Agustus 2018, guru besar itu tutup usia. Prof Glinka, atau Romo Glinka, atau Glinka, meninggal di RKZ Surabaya. Sejumlah kolega datang memberikan penghormatan terakhir, menyatu dalam doa untuk mengantar kepergiannya.

“Kita memiliki 300 suku bangsa, agama, kepercayaan, dan lain-lain. Agar tak ada konflik yang merugikan, kita harus tetap berdamai. Saling kerja sama dan saling menghormati,” tukasnya. Lirih, tertutup buku dan catatannya. (hdl)

Add Pilar.ID as a preferred source on Google+

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id
Jozef Glinka
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Kristina Yoko

J Trust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko, Perkuat Dukungan Atlet Indonesia Menuju Panggung Dunia

19 Juli 2026
VinFast resmi membuka 20 dealer motor listrik di kota besar Indonesia pada Juli 2026. Konsumen bisa menjajal lini produk hingga layanan tukar baterai gratis.

VinFast Buka 20 Dealer Motor Listrik di Indonesia: Hadirkan Model Evo, Feliz II, dan Viper

18 Juli 2026
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperkuat ekosistem Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi untuk menjaga pasokan sembako dan LPG 3 kg.

Khofifah Tinjau Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi: Pastikan Stok Sembako dan LPG 3 Kg Aman

18 Juli 2026
Moh. Zaki Ubaidillah

Debut Manis di Japan Open 2026: Zaki Ubaidillah Tumbangkan Wakil Denmark dan Lolos 16 Besar

17 Juli 2026
Secure Parking Indonesia sukses mengurai kepadatan mobilitas 6,1 juta pengunjung dan transaksi Rp8,2 triliun selama 32 hari Jakarta Fair 2026.

Sukses Kelola Parkir 6,1 Juta Pengunjung Jakarta Fair 2026, Begini Strategi Secure Parking Meta

16 Juli 2026
Berita Lainnya
Rano Karno meresmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan uji coba Open Dining untuk memperkuat wisata, budaya, dan ekonomi kreatif Jakarta.

Rano Karno Resmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan Uji Coba Open Dining, Perkuat Wisata Kota Tua

23 Juli 2026
Pemkot Surabaya memasang portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih untuk menjamin tarif maksimal Rp5.000, transparansi, dan keamanan kendaraan.

Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih, Tarif Maksimal Rp5.000 Kini Diawasi Ketat

23 Juli 2026
BNI mendukung Festival Seni & Bazaar MSI 2026 untuk memperkuat pelestarian budaya, pengembangan UMKM, dan ekonomi kreatif Indonesia.

BNI Dukung Festival Seni & Bazaar MSI 2026, Perkuat Pelestarian Budaya, UMKM, dan Ekonomi Kreatif Indonesia

23 Juli 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.