Jakarta (pilar.id) – Bulan Juni sejatinya sudah memasuki musim kemarau di Indonesia. Namun, di beberapa daerah, potensi hujan tinggi masih akan terjadi di sejumlah daerah. Termasuk, di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tingginya potensi hujan ini, berdasar dari prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Curah hujan di wilayah NTB pada dasarian III Juni 2022 hampir seluruhnya berada pada kategori rendah (0 – 50 mm/das),” kata Forecaster on duty BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat Dewo Sulistio Adi W dalam keterangan tertulisnya di Praya, Selasa (21/6/2022).
Peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm/dasarian diprakirakan berpotensi terjadi di sebagian wilayah NTB yaitu Lombok Barat, Mataram, Lombok Tengah, sebagian kecil Lombok Timur, sebagian kecil Sumbawa, sebagian Sumbawa Barat, Dompu dan Kabupaten Bima bagian utara dengan peluang 10 sampai 50 persen.
Curah Hujan tertinggi terjadi di wilayah Narmada, Lombok Barat dengan jumlah curah hujan sebesar 161 mm/dasarian. Sifat hujan pada dasarian II Juni 2022 di wilayah NTB hampir seluruhnya berada pada kategori Atas Normal (AN) hanya di sebagian kecil wilayah Lombok Timur, Sumbawa, Bima dan Kota Bima berada pada kategori Bawah Normal (BN).
“Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) Provinsi NTB umumnya dalam kategori sangat Pendek (1 sampai 5 hari) hingga masih ada hujan sampai dengan updating. HTH terpanjang terpantau terjadi di wilayah Woha Kabupaten Bima, sepanjang 23 hari (Panjang),” katanya.
Update kondisi dinamika atmosfer terakhir menunjukkan Indeks ENSO berada pada kondisi La Nina Lemah (indeks ENSO : -0.85). BMKG memprakirakan kondisi ENSO masih akan berlangsung pada kategori Netral hingga Juli-Agustus-September. Sementara itu, Indeks Dipole Mode menunjukkan kondisi IOD Netral yang diperkirakan akan cendrung Netral-Negatif hingga Desember 2022.
Saat ini, angin timuran terpantau mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia kecuali wilayah Sumatera Barat bagian utara hingga tengah, bagian tengah Jawa hingga Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Monsun Australia masih aktif dan diprediksi akan tetap aktif dan mendominasi seluruh wilayah Indonesia.
Pergerakan MJO saat ini terpantau tidak aktif di wilayah Indonesia. Potensi peningkatan pembentukan awan (OLR) di wilayah sekitar NTB diprakirakan akan masih dapat terjadi hingga akhir Juni 2022.
“Rata–rata anomali Suhu Muka Laut sekitar wilayah NTB saat ini berada pada kategori hangat yang diprakirakan akan tetap hangat hingga November 2022,” katanya.
Masih adanya potensi hujan di periode musim kemarau ini masyarakat perlu tetap mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang.
“Masyarakat di NTB dapat memanfaatkan peluang adanya hujan ini dengan melakukan penampungan air guna mengantisipasi bencana kekeringan khususnya di wilayah-wilayah yang sering terjadi kekeringan,” katanya. (fat)









