Jakarta (pilar.id) – Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa telah mengundurkan diri dari jabatannya. Mundurnya Rajapaksa buntut dari kebangkrutan Sri Lanka setelah mengalami krisis keuangan terparah dalam tujuh dekade terakhir dan menyulut kemarahan rakyatnya sendiri.
Sri Lanka mengalami kebangkrutan setelah mengalami kesulitan ekonomi dan bahan bakar minyak (BBM) yang berujung kesulitan membeli bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan warganya. Sementara mereka juga tidak mampu membayar utang luar negeri yang menggunung.
Banyak kalangan di Indonesia yang mewanti-wanti agar Indonesia tak bernasib sama seperti Sri Lanka. Pemerintah Indonesia harus waspada.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, pemerintah harus bisa mengelola utang dengan baik. Jumlah utang Indonesia sudah bertambah hampir dua kali lipat ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat.
“Bangkrutnya Sri Lanka jadi alarm bagi pemerintah kita,” kata Huda, Senin (11/7/2022).
Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2022 sebesar 409,5 miliar dolar AS, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 412,1 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan posisi ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral).
Kendati demikian, menurut dia, bangkrutnya Sri Lanka relatif tidak akan berdampak ke negara asia lainnya seperti Indonesia, karena perdagangan luar negeri Sri Lanka cukup kecil dan produk domestik brutonya pun kecil di ekonomi global.
“Tapi bangkrutnya Sri Lanka harus menjadi pelajaran berharga, bagaimana pengelolaan utang yang buruk di Sri Lanka bisa mendatangkan musibah ekonomi,” ujarnya.
Sebelumnya, kemarahan rakyat Sri Lanka membuat Gotabaya Rajapaksa ‘terusir’ dari istananya di Kolombo pada Sabtu (9/7/2022). Massa menyerbu rumah dinas Gotabaya Rajapaksa.
Dalam suasana mendebarkan tersebut, Gotabaya Rajapaksa dikawal meninggalkan kediamannya. Evakuasi orang nomor satu di Sri Lanka itu dilakukan sebelum massa yang menuntut pengunduran dirinya datang menyerbu. (her/din)

