Jakarta (pilar.id) – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memperkuat posisinya sebagai pionir transformasi digital dalam industri hulu migas nasional. Sebanyak empat inovasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dan machine learning yang dikembangkan oleh PHR berhasil menyabet apresiasi bergengsi dalam ajang Integrated Operation Centre (IOC) Forum & Hackathon Hulu Migas 2026.
Penghargaan yang diinisiasi oleh SKK Migas ini digelar di Jakarta pada Kamis (2/7/2026). Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bagaimana implementasi teknologi mutakhir mampu memberikan dampak masif terhadap efisiensi operasional, menekan emisi karbon, sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Deputi Eksploitasi SKK Migas, Surya Widiantoro, menegaskan bahwa kompetisi ini dirancang untuk menjaring ide-ide brilian dari para profesional dan akademisi. Menurutnya, sektor hulu migas merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, hadirnya inovasi teknologi menjadi instrumen krusial agar industri ini tetap tangguh.
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menyatakan bahwa pencapaian ini membuktikan Wilayah Kerja (WK) Rokan telah bertransformasi menjadi pusat keunggulan (center of excellence) digital bagi subholding upstream Pertamina. Inovasi yang lahir di Blok Rokan kini menjadi tolok ukur, baik di tingkat zona maupun regional. Keberhasilan ini juga lahir dari kolaborasi lintas disiplin, mulai dari tim subsurface, operasi produksi, engineering, hingga teknologi informasi.
i-RSS dan AI-Chemist 2.0: Pendongkrak Efisiensi Rig dan Optimasi Sumur
Inovasi pertama yang mencuri perhatian adalah AI-Driven Integrated Rig Support Services (i-RSS) yang dikembangkan oleh Tim C.O.R. Inovasi ini sukses meraih Juara 1 kategori Surface KKKS – Implementation. Platform AI ini mengintegrasikan seluruh layanan pendukung operasi pengeboran dan workover untuk mengelola ribuan sumur aktif di Blok Rokan. Hasilnya, sistem ini mampu memangkas Rig Non-Productive Time (NPT) hingga 71% dan menekan kehilangan produksi minyak hingga 76%.
Di sektor bawah permukaan, Tim AI-Chemist 2.0 juga berhasil mengamankan Juara 1 kategori Subsurface – KKKS Implementation. Mereka mengembangkan solusi machine learning untuk meningkatkan akurasi program stimulasi kimia di Lapangan Duri Heavy Oil. Lewat perpaduan tiga model data, teknologi ini mendongkrak tingkat keberhasilan stimulasi kimia dari yang semula hanya 55% melonjak drastis ke angka 86%, memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan produksi minyak (oil gain).
LandGuard AI dan JORUN AI: Proteksi Aset dan Efisiensi Operasi Fishing
Keamanan wilayah kerja juga tidak luput dari sentuhan digital. Tim LandGuard menghadirkan LandGuard AI, sebuah sistem pemantauan otomatis berbasis citra satelit resolusi tinggi yang meraih Juara 1 kategori Surface – KKKS Proof of Concept. Melalui deteksi dini perambahan lahan di sekitar fasilitas operasi, PHR berhasil menyelamatkan potensi produksi minyak yang sangat besar, mencapai 4.634 MBO.
Sementara itu, untuk mengatasi tingginya risiko pada pekerjaan fishing (evakuasi alat yang tertinggal di dalam sumur), Tim F.O.C.U.S meluncurkan JORUN AI (Journey of Optimal Recovery and Unlocking New Potential). Sebagai Juara 3 kategori Subsurface – KKKS Implementation, platform ini menganalisis data historis untuk memandu keputusan di lapangan.
Selama periode implementasi Maret hingga Desember 2025, JORUN AI sukses mengawal 244 pekerjaan fishing dengan tingkat kegagalan nol persen (Zero Failed Jobs). Keberhasilan ini menghemat biaya operasional, menaikkan produktivitas hingga 31%, serta berkontribusi mengurangi emisi karbon sebesar 937 ribu ton CO₂.
Replikasi Teknologi Demi Target Produksi Migas Nasional
Keberhasilan keempat instrumen AI ini diharapkan tidak berhenti di Blok Rokan saja. SKK Migas mendorong agar inovasi-inovasi berbasis data ini dapat direplikasi secara luas di berbagai wilayah kerja migas lain di seluruh Indonesia guna mempercepat digitalisasi sektor hulu secara nasional.
Ke depan, PHR berkomitmen untuk terus mengeksplorasi dan memperluas adopsi kecerdasan buatan ke lini operasi lainnya. Beberapa sektor yang dibidik untuk digitalisasi berikutnya meliputi layanan wireline, electric submersible pump (ESP), coiled tubing, fracturing, hingga manajemen logistik.
Langkah agresif ini diharapkan terus memperkuat posisi PHR dalam mendukung target produksi migas nasional melalui skema operasional yang lebih aman, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. (hdl)










