Jakarta (pilar.id) – Lulusan pendidikan vokasi semakin diminati oleh dunia kerja, berdasarkan tren positif yang ditunjukkan dalam laporan terbaru dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Tren ini tercermin dari data angkatan kerja yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyerapan lulusan vokasi di berbagai sektor industri.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa peningkatan keterampilan lulusan vokasi sejalan dengan kebijakan revitalisasi pendidikan vokasi yang dilakukan secara berkesinambungan. “Kami terus berupaya meningkatkan kompetensi lulusan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan industri, sesuai dengan Perpres No. 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi,” ujarnya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan signifikan pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bekerja, dengan kenaikan sebesar 4,24 persen antara tahun 2020 hingga 2023. Pada periode yang sama, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) lulusan SMK juga mengalami kenaikan sebesar 3,83 persen.
Pada Februari 2024, jumlah lulusan SMK yang bekerja mencapai 17.185.456 orang, meningkat 1,5 juta dibandingkan tahun lalu. Tren serupa juga terlihat pada lulusan Diploma I/II/III, di mana tercatat 3.395.566 orang telah bekerja, meningkat 341.512 dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa lulusan vokasi semakin diminati oleh dunia kerja di Indonesia.
Berdasarkan laporan Rapor Pendidikan Indonesia 2023, tingkat penyerapan lulusan SMK dalam dunia kerja, pendidikan lanjutan, atau wirausaha mencapai 87,07 persen. Program-program seperti Teaching Factory dan Business Matching yang diinisiasi oleh Ditjen Pendidikan Vokasi telah membantu lulusan lebih siap menghadapi tantangan industri.
“Kami akan terus bekerja sama dengan sektor industri melalui berbagai inisiatif untuk memastikan lulusan vokasi memiliki keterampilan yang relevan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tutup Tatang. (usm/hdl)






