Surabaya (pilar.id) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Tiga mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi QRIS Jelajah Budaya Indonesia 2025 yang digelar oleh Bank Indonesia (BI).
Mereka adalah Antonio Billydhrama Pangestu, Fandy Ahmad Firmansyah Anwar, dan Alif Wildan Arrazak. Ketiganya tergabung dalam tim Scan Squad yang bersaing dengan peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia.
Kompetisi QRIS Jelajah Budaya Indonesia merupakan program BI yang mengajak masyarakat menjadi agen sosialisasi pembayaran digital. Perlombaan ini berlangsung sejak Agustus hingga September 2025 dan menuntut partisipan melaksanakan dua misi utama, yakni misi lapangan dan misi media sosial.
Pengalaman Baru di Luar Kelas
Ketua tim Scan Squad, Billy, menjelaskan motivasi mereka ikut ajang ini adalah untuk mencoba pengalaman baru di luar rutinitas perkuliahan.
“Di satu sisi kita bisa keliling dan mengeksplorasi tempat-tempat baru. Di sisi lain kita juga bisa mengajarkan kebijakan Bank Indonesia dan produk-produknya,” ujarnya.
Dalam kompetisi ini, Scan Squad melaksanakan empat misi utama.
- Misi pertama: sosialisasi BI-FAST proxy address, edukasi PeKA (Peduli, Kenali, Adukan) untuk perlindungan konsumen, serta kunjungan ke Museum De Javasche Bank Surabaya.
- Misi kedua: eksplorasi budaya di Mojokerto sambil mengenalkan sistem pembayaran digital kepada masyarakat.
- Misi ketiga: edukasi QRIS Tap NFC, QRIS MPM Dinamis dan Statis, serta pengenalan permainan QRIS Jelajah di Surabaya.
- Misi keempat: jelajah budaya di Kabupaten Sumenep dengan mengenalkan konsep Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Untuk mendukung sosialisasi, tim ini menggunakan berbagai metode, termasuk praktik langsung. “Di Sumenep, kami membawa alat peraga sendiri, seperti poster, sinar UV, lampu, hingga uang robek untuk menjelaskan ciri-ciri uang palsu,” kata Billy.
Tantangan Bahasa dan Budaya
Dalam pelaksanaan misi, Scan Squad menghadapi tantangan, terutama kendala bahasa di Sumenep, Madura. Namun hal itu justru menjadi pengalaman berharga.
“Saat mengunjungi Madura menjadi pengalaman berkesan karena kami mengenal bahasa dan budaya yang asing bagi mahasiswa di Surabaya,” ungkap Fandy.
Meski kompetisi telah usai, tim Scan Squad menegaskan komitmennya untuk terus menyebarkan pemahaman tentang sistem pembayaran digital kepada masyarakat.
“Kami akan terus mengedukasi mengenai QRIS, mungkin mulai dari warung-warung di sekitar lingkungan kami atau di area kampus,” tambah Alif.
Keberhasilan ini semakin menegaskan kontribusi mahasiswa UNAIR dalam mendukung literasi keuangan dan transformasi digital di Indonesia. (usm/hdl)










