Mataram (pilar.id) – Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, hadir dalam acara pengukuhan 2.302 Relawan Moderasi Beragama di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan ini diinisiasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB dan mendapat apresiasi dari Menag atas peranannya dalam menjaga kerukunan di wilayah tersebut.
Menag Yaqut memberikan dua pesan penting kepada para relawan. Dalam sambutannya, ia menyatakan, “Menjadi Relawan Moderasi tidaklah mudah. Ini melibatkan dua konsep, relawan dan moderasi. Relawan harus rela, namun terkadang juga harus melawan.”
Lebih lanjut, Menag Yaqut menekankan bahwa tugas moderasi memerlukan posisi yang seimbang. “Moderasi harus berada di tengah-tengah, tidak boleh condong ke kiri atau ke kanan. Harus mengikuti arahan pimpinan,” tegasnya.
Pria yang akrab disapa Gus Men ini juga menyoroti situasi di masyarakat di mana ada kelompok yang mengklaim sebagai pemegang otoritas keagamaan dan kebenaran. “Mereka mengklaim berhak menentukan kebenaran. Oleh karena itu, Relawan Moderasi diharapkan dapat berada di tengah-tengah, menjembatani situasi ekstrim, dan memoderasi hal-hal yang dianggap memiliki otoritas atas kebenaran,” tambahnya.
Gus Men juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara majemuk yang dipenuhi keragaman. “Keberagaman merupakan takdir Indonesia, dan perbedaan yang dimiliki selalu menjadi kekuatan yang berhasil mempertahankan kemerdekaan negara kita,” ujarnya.
Pj. Gubernur NTB, yang diwakili oleh Sekda Provinsi NTB Fathurrahman, turut mengapresiasi langkah-langkah Kementerian Agama dalam mewujudkan moderasi beragama. Fathurrahman berharap Relawan Moderasi dapat menjadi solusi nyata untuk melawan intoleransi, terutama dalam konteks politik.
“Komitmen bersama perlu ditegaskan, terutama dalam menjaga ketenangan selama pemilu. Politik seharusnya memperkuat kerukunan yang telah kita bangun bersama, bukan merusaknya,” ajaknya.
Kakanwil Kementerian Agama Provinsi NTB, H. Zamroni Aziz, menambahkan bahwa Relawan Moderasi ini berasal dari lebih dari 1.000 desa di Provinsi NTB, melibatkan berbagai unsur seperti ASN Provinsi NTB, tokoh agama, aparat keamanan, penyuluh agama, dan petugas KUA di wilayah NTB.
“Relawan akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk menjaga kerukunan umat beragama, sehingga kehidupan yang nyaman di NTB dapat terjamin,” ungkap H. Zamroni. (usm/hdl)










