Jakarta (pilar.id) – Indonesia pada Maret 2022 akan menjadi tuan rumah perhelatan MotoGP yang akan digelar di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sisi ekonomi, menjadi tuan rumah acara internasional diharapkan bakal mendatangkan berhak bagi masyarakat lokal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Surakarta (UNSA) Agus Trihatmoko menilai, pembangunan infrastruktur fasilitas umum dan kepariwisataan tentu akan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi pada daerah setempat.
Meskipun demikian, manfaat itu belum tentu menyejahterakan rakyat kalangan bawah secara menyeluruh. Ihwal adanya event MotoGP Mandalika, kata Agus, pertama yang harus dilihat ialah tentang reputasi negara, sedangkan ekonomi merupakan hal berikutnya. Mandalika mulai muncul sebagai ikon Indonesia dalam teori public marketing.
Keberhasilan perhelatan MotoGP menjadi reputasi yang baik. Nantinya, reputasi yang baik tersebut akan menjadikan Mandalika daerah yang indentik dengan Indonesia. Dalam konteks ini tentu menjadi sebuah terobosan positif, terlepas situasional ekonomi nasionalnya yang masih patut diperdebatkan.
“Penyelenggaran MotoGP dalam jangka pendek tidak berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Tetapi bagi daerah lokal, jelas akan langsung terasa dampak positifnya. Animo penggemar MotoGP dan kalangan elit saat ini sangat antusias untuk bisa datang ke Mandalika,” kata Agus saat dihubungi Pilar.id, Kamis (10/2/2022).
Dalam jangka panjang, konsep Mandalika dan juga infrastruktur olahraga lainnya yang berkelas internasional akan sangat mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor wisata. Efek pertumbuhan ekonomi dia ektor wisata akan berdampak juga pada stadion sepakbola megah di Jakarta yang tidak lama lagi akan diresmikan.
Keberadaan fasilitas-fasilatas olahraga dan wisata mewah berkontribusi pada pertumban perekonomian secara umum. Namun demikian, bagi UMKM masih harus dikaji kembali. Bisa jadi malah kontraproduktif, jika sektor usaha kelas bawah digarap oleh pelaku usaha besar-menengah.
Padangan tersebut ada baiknya jika ditengok kembali dengan kehadiran supermarket dan hypermarket, kala dulu. Tampak megah dan akseleratif kemajuan ekonomi, tetapi terkesan terdapat praktik kanibalisasi terhadap pasar tradisional. Demikian juga kehadiran jalan tol, yang berkembang di jalur tol bukan wirausaha kelas bawah.
Pada kesempatan ini, pencetus ekonomi murakabi ini sepakat dengan modernisasi dan kemewahan infrastruktur. Karena, menurut Agus, pasti sudah barang tentu memiliki segmen pasarnya.
“Namun demikian, pemerintah mestinya menata bagaimana UMKM diberi ruang atau fasilitas khusus, dengan kebijakan yang sifat berpihak pada yang lemah. Catatan ini, sebenarnya bukan rahasia dalam teori ekonomi dan sosial, tetapi seringkali terabaikan,” tegasnya.
Dihubungi terpisah, peneliti senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, anggaran besar yang disiapkan pemerintah lebih diperuntukkan untuk perbaikan dari masing-masing infrastruktur, sementara dampak bagi UMKM, akan ada peran dari pemerintah daerah itu sendiri dalam meng-captive market.
Artinya, penyelenggaran MotoGP juga bisa dilakukan sepaket dengan kegiatan lain, seperti kepada sentra market UMKM yang sudah ada. Jika belum ada, tentu perlu dipertimbangkan pemerintah untuk membangunnya. Suvenir yang disiapkan untuk para pembalap juga seharusnya diproduksi oleh UMKM di wilayah sekitar.
Tetapi semua ini hanya bisa dilakukan jika ada koordinasi antar pemerintah daerah setempat dan pemerintah pusat. “Tentu ada dampak multiplier ke perekonomian jika penyelenggaran ini dilangsungkan diantaramya untuk sektor pariwisata hingga sektor transportasi,” kata Yusuf. (her/din)










