Jakarta (pilar.id) – Cabe teja rupanya sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Tentu saja, cabai impor asal India ini disukai para pencinta kuliner karena memiliki cita rasa lebih pedas yang pas di lidah.
“Per kilo untuk level 1 Rp95 ribu per kilo, untuk level 3 Rp250 kilo,” kata marketing PT Ganesha Abaditama, Aditya Ganesha Putra kepada Pilar.id, dalam pameran industri kecil menengah (IKM), di Jakarta, Minggu (11/12/2022).
Adit mengaku, permintaan dalam negeri cukup menjanjikan seiring tumbuhnya industri makanan. Apalagi, saat ini makanan pedas paling digandrungi anak muda. Per bulan, ia harus mengimpor Teja Cabe dari India sebanyak 10 ton.
“Tergantung permintaan, saya ngambilnya dari importir,” kata Adit.
PT Ganesha Abaditama sendiri merupakan pemasok bumbu-bumbu untuk industri dan restoran skala besar. Produk yang mereka pasarkan antara lain, parsley, pala, oregano flake, rosemary, ketumbar, dan lain-lain.
“Kita biasanya ngambilnya masih utuh, karena kalau sudah dihaluskan kita tidak tahu isinya,” kata Adit.
Sementara itu, PT Galih Sagu Pangan menawarkan beras yang berasal dari sagu. Mereka mendapatkan bahan baku berupa tepung sagu dari Papua, lalu diolah menjadi beras sagu dengan berbagai varian rasa.
“Sagunya dari Papua, kita produksinya di Tangerang,” kata marketing PT Galih Sagu Pangan Gia.
Gia menjelaskan, beras sagu rasa original dengan kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp5000, kemasan 1 kilogram harganya Rp20 ribu, dan kemasan 5 kilogram seharga Rp100 ribu. Kemudian untuk varian lain, seperti nasi sagu kare, goreng pedas, rendang, balado, uduk, liwet, gulai, dan bumbu bali kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp20 ribu.
Gia juga menjelaskan cara masaknya cukup mudah. Karena sudah melalui proses sterilisasi, maka tidak perlu dicuci lagi saat ingin memasaknya.
“Langsung saja masukkan ke rice cooker dan masak kurang lebih 15 menit, airnya sedikit lebih banyak,” kata dia. (din/antara)



