Jakarta (pilar.id) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa ancaman krisis pangan sebagai akibat perubahan iklim bukanlah hal yang tidak nyata.
Dalam sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) Perhimpunan Agronomi Indonesia, ia menjelaskan bahwa perubahan iklim yang terjadi dengan cepat berdampak pada ketahanan pangan nasional karena menurunnya hasil panen dan kegagalan bercocok tanam.
“Temperatur bumi secara global naik 1,2 derajat celsius. Itu adalah angka yang besar dan mematikan!,” tegasnya.
Meskipun terlihat kecil, kenaikan 1,2 celcius merupakan angka yang besar dan berbahaya. Fenomena ekstrem dan bencana hidro-meteorologi yang disebabkan oleh pemanasan global semakin meningkat.
Ia juga menyebutkan bahwa prediksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tentang terjadinya bencana kelaparan pada tahun 2050 adalah ancaman yang nyata.
Ini bukan hanya menjadi ancaman bagi Indonesia atau negara-negara berkembang saja, tetapi bagi seluruh negara di dunia jika tidak ada tindakan konkret untuk mengatasi krisis iklim.
Dwikorita menekankan bahwa meskipun ancaman perubahan iklim dan krisis pangan belum terlalu terlihat di Indonesia saat ini karena ketersediaan sumber daya alam yang masih melimpah dan kondisi geografis yang mendukung produksi pertanian sepanjang tahun, jika situasi iklim global tidak ditangani dengan serius, Indonesia mungkin terlambat dalam menghadapi bencana kelaparan pada tahun 2050.
Ketahanan pangan nasional Indonesia dihadapkan pada tantangan besar, yaitu peningkatan jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan produksi pangan yang stagnan.
Selain itu, Dwikorita mengungkapkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat, dampak perubahan iklim di Indonesia dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp544 triliun hingga tahun 2024.
Oleh karena itu, kebijakan ketahanan iklim menjadi salah satu prioritas yang dapat menghindari potensi kerugian ekonomi sebesar Rp281,9 triliun hingga tahun 2024.
BMKG, di bawah kepemimpinan Dwikorita, terus melakukan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Hal ini melibatkan pengembangan teknologi dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan yang semakin kompleks. Informasi dan data yang dikeluarkan oleh BMKG tidak hanya penting untuk penanggulangan bencana alam, tetapi juga untuk berbagai sektor seperti kesehatan, konstruksi, energi, pertanian, pariwisata, transportasi, pertahanan, sumber daya air, dan kelautan.
Dalam sektor pertanian, BMKG terus mengadakan program literasi iklim dan cuaca kepada petani dan penyuluh pertanian melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) di seluruh Indonesia.
Informasi iklim terkini dari BMKG digunakan sebagai referensi dalam pemantauan ketahanan pangan nasional. Data dan informasi tersebut mencakup anomali iklim global, pemantauan kondisi iklim, dan prediksi iklim, yang dapat menjadi dasar untuk menentukan status ketahanan pangan nasional.
Dengan demikian, upaya yang dilakukan oleh BMKG dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim diharapkan dapat membantu Indonesia menghadapi tantangan krisis pangan akibat perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan nasional di masa depan. (hdl)










