Jakarta (pilar.id) – Pengamat ekonomi dan energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, klaim Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi ternyata hingga akhir pekan tidak terbukti.
Kata dia, pernyataan Luhut itu hanya menimbulkan gonjang-ganjing yang menyulut kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM subsidi dinaikkan.
“Kehebohan Luhut juga menyulut panic buying yang menyebabkan kelangkaan Pertalite dan Solar di beberapa SPBU,” kata Fahmy dalam keterangan persnya, Senin (29/8/2022).
Pemerintah sesungguhnya sudah mengajukan tiga opsi; yaitu penambahan subsidi, menaikkan harga BBM subsidi, dan pembatasan BBM subsidi.
Opsi penambahan subsidi sudah mustahil dilakukan, lantaran Pemerintah sudah mengunci dana subsidi pada Rp502,4 triliun.
Opsi menaikkan harga BBM subsidi pertaruhannya terhadap momentum ekonomi dan menambah beban rakyat miskin terlalu besar.
Dengan demikian, satu-satunya opsi tersisa adalah pembatasan BBM subsidi. Menteri Keuangan Sri Mulyani melangsir data bahwa 70 persen subsidi Pertalite dan 90 persen subsidi Solar salah sasaran.
“Dari total subsidi Pertalite dan Solar yang salah sasaran selama ini sebesar Rp198 triliun, suatu jumlah yang amat besar bagi APBN,” kata dia.
Apabila pembatasan subsidi BBM berhasil dilakukan, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi. Namun, pemerintah cenderung memilih opsi menaikkan harga BBM subsidi yang konon akan diputuskan pada 1 September 2022.
Ia mempertanyakan nengapa pemerintah tidak memilih opsi pembatasan BBM subsidi tapi lebih memilih menaikkan harga BBM subsidi? Jangan-jangan industri besar selama ini peminum BBM subsdi melalui oligarki ikut bermain dalam pengambilan keputusan agar tetap bisa minum Solar dengan harga Rp5.000 bukan Rp21.000 per liter.
“Kalau pemerintah menaikkan harga Solar subsidi menjadi Rp8.500 masih lebih menguntungkan bagi industry sekitar Rp13.000. Kalau benar ologarki di balik keputusan menaikkan harga BBM subsidi, hanya satu kata, lawan,” tegas Fahmy. (her/din)



