Jakarta (pilar.id) – Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri dan membuka jamuan makan malam budaya bersama delegasi Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) ke-19 di Museum Nasional, Jakarta Pusat. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Konferensi PUIC yang digelar di Indonesia, dan dihadiri delegasi parlemen dari berbagai negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Jamuan makan malam ini merupakan undangan dari Fadli Zon, Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, sekaligus Menteri Kebudayaan. Puan duduk semeja bersama Fadli Zon, Sekjen PUIC Mouhamed Khouraichi Niass, serta Wamen Kebudayaan Giring Ganesha. Hadir pula para anggota BKSAP dan delegasi parlemen negara OKI lainnya.
Sebelum santap malam, para delegasi diajak mengelilingi Museum Nasional untuk mengenal lebih dekat kekayaan sejarah dan budaya Indonesia.
Indonesia Bangga Jadi Tuan Rumah Konferensi PUIC ke-19
Dalam sambutannya, Puan menyampaikan rasa terhormat Indonesia menjadi tuan rumah PUIC ke-19, mengingat statusnya sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
“Saat kita berkumpul di institusi ikonik ini, saya teringat akan kekuatan keberagaman dan pentingnya pertukaran budaya. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia,” ujar Puan.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar parlemen negara Islam untuk membangun masa depan yang damai dan berkelanjutan, apalagi momen ini bertepatan dengan 25 tahun PUIC sejak pertama berdiri pada 1999.
“Mari kita bekerja sama untuk memajukan perdamaian, kesejahteraan, dan kemajuan bagi seluruh umat manusia,” tambah Puan.
PUIC 2025: Bahas Tata Kelola yang Kuat untuk Ketahanan Dunia Islam
Konferensi PUIC ke-19 akan digelar di Gedung DPR RI, Senayan, pada 12–15 Mei 2025, dengan mengusung tema “Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience”. Tema ini menegaskan bahwa ketahanan dunia Islam berakar pada tata kelola pemerintahan yang kuat dan transparan.
Puan menyatakan bahwa DPR RI berkomitmen membawa PUIC pada solusi konkret, termasuk menyuarakan kemerdekaan Palestina, memperkuat institusi, dan menjaga perdamaian kawasan.
“Diplomasi parlemen saat ini menuntut aksi nyata. Isu Palestina dan penguatan kelembagaan adalah agenda prioritas kita,” tegasnya.
Konferensi PUIC ini diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari negara anggota dan negara pengamat. Para delegasi telah mulai berdatangan ke Jakarta sejak Minggu, 11 Mei 2025. (hen/ted)









