Jakarta (pilar.id) – Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menilai, misi perdamaian Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Ukraina dan Rusia merupakan secercah harapan dan langkah awal agar bumi lebih damai dan jauh dari perang.
Menurut Didik, upaya perdamaian ini patut diacungi jempol dan tidak boleh berhenti melainkan nanti dilanjutkan oleh menteri di bawahnya.
“Harus ada lebih banyak pemimpin negara lain yang menjalankan misi perdamaian dibandingkan hanya unjuk kegagahan dan kepongahan untuk mengobarkan perang seperti masa perang dunia pertama dan kedua,” kata Didik, Kamis (30/6/2022).
Di sisi lain, setelah hampir 8 tahun akhirnya Jokowi datang ke forum-forum internasional. Sekarang, saatnya yang tepat untuk memerankan politik bebas aktif, seperti diamanatkan oleh UUD 1945.
Citra dan kesan bahwa Jokowi inward looking mulai pupus karena sering tidak pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan internasional. Namun sekali berperan dalam misi perdamaian ini, maka Jokowi sudah memainkan peran yang strategis bagi dunia.
“Peranan ini juga sangat penting bagi Indonesia karena ini merupakan amanat UUD 1945,” kata dia.
Hal ini, kata Didik, adalah permulaan yang sangat baik, sekalipun cukup mengejutkan Jokowi mengambil keputusan ini. Tentu dengan risiko bahaya yang tidak kecil, apalagi bersama Ibu Negara.
Maka setelah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, misi perdamaian ini perlu dilanjutkan dalam kunjungan ke negara-negara besar di dalam G20 sendiri, utamanya China, yang sekarang tetap menahan diri.
Ia juga menilai, Jokowi perlu hadir berpidato di forum PBB untuk menyuarakan perdamaian dunia. Para menterinya perlu mempersiapkan panggung jika momentum kunjungan ini mendapat sambutan yang baik dari kedua belah pihak.
Diplomasi ke pihak NATO perlu dilanjutkan lebih mendalam oleh para menterinya. Sebab, NATO merupakan akar dan sumber masalah konflik saat ini dan masa yang akan datang. Didik merasa aneh, sebab di masa damai dengan ekonomi merupakan prioritas utama seluruh dunia, NATO justru unjuk kekuatan dan menggerek misi mendominasi dunia.
Posisi presidensi Indonesia di dalamnya sangat strategis dan menguntungkan bagi Jokowi dan Indonesia untuk berperan. Kelembagaan G20 sangat penting dan mungkin lebih penting dari PBB yang isinya negara gangster dengan watak untuk menguasai, mendominasi dan bahkan jika bisa meniadakan eksistensi negara tertentu. PBB sulit diharapkan berperan untuk mendamaikan perang Rusia Ukraina karena posisinya sudah berpihak.
Oleh sebab itu, lanjutnya, Indonesia layak tampil sebagai negara yang berpengaruh di dunia untuk menjalankan misi perdamaian ini. Sejarah peranan Indonesia di dalam diplomasi dan perdamaian sudah dikenal dunia.
Bung Karno adalah tokoh dunia yang sangat dikenal karena berdiri di tengah konflik ideologi dunia Barat dan Timur yang mengerikan. Di zaman Soeharto juga banyak tampil diplomat-diplomat hebat yang mampu berperan mendamainakn. Konflik ideologi di Asia Tenggara dan Timur Tengah.
“Peranan Jokowi dalam hal ini sangat dihargai karena merupakan lompatan untuk Indonesia tampil kembali di gelanggang internasional, yang riskan konflik. Selamat berjuang Mr President!” tutupnya. (her/hdl)










