Jakarta (pilar.id) – Likuiditas perekonomian Indonesia menunjukkan tren positif pada Februari 2026. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), meskipun sedikit melambat dibandingkan Januari 2026 yang mencatat pertumbuhan 10 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh komponen utama uang beredar, yakni uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi. M1 tumbuh cukup tinggi sebesar 14,4 persen secara tahunan, mencerminkan peningkatan aktivitas transaksi masyarakat. Sementara itu, uang kuasi mencatat pertumbuhan 3,1 persen yang menunjukkan stabilitas pada instrumen simpanan seperti deposito dan tabungan berjangka.
Dari sisi faktor pendorong, perkembangan M2 dipengaruhi oleh meningkatnya tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta pertumbuhan kredit. Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat naik signifikan sebesar 25,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan peran kebijakan fiskal yang masih ekspansif dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.
Di sektor perbankan, fungsi intermediasi tetap berjalan dengan baik meskipun pertumbuhan kredit mengalami moderasi. Pada Februari 2026, penyaluran kredit tumbuh 8,9 persen secara tahunan, sedikit melambat dari Januari yang mencapai 10,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor keuangan tetap adaptif di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Pertumbuhan likuiditas yang tetap solid menjadi indikator penting dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi. Ketersediaan uang beredar yang memadai diharapkan mampu mendorong konsumsi masyarakat serta meningkatkan investasi, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar, sekaligus memastikan stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. (usm)









