Surabaya (www.pilar.id) – Edukasi seks terhadap anak-anak dan remaja di Indonesia masih dirasa tabu oleh sebagian masyarakat. Hal itulah yang dilihat Reni Apriliana, alumni Institut Seni Indonesia di Solo, sehingga ia membuat sebuah karya film pendek yang mengangkat isu kehamilan yang tidak diinginkan.
“Saya mencoba merespon dari kasus-kasus remaja yang mengalami kehamilan di luar pernikahan atau kehamilan yang tidak diinginkan,” jelas Reni yang merupakan lulusan ISI tahun 2019 ini.
Film pendek itu berjudul Telur Setengah Matang yang telah diproduksi sejak 2019 lalu. Reni selaku Sutradara menjelaskan, jika Telur Setengah Matang merupakan analogi dari keadaan fisik dan mental dari seorang remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah dan dipaksa menikah oleh orang tuanya, untuk menutupi malu.
“Pada kondisi saat itu, banyak perempuan atau anak remaja yang sebenarnya belum siap sepenuhnya untuk menikah dan membina rumah tangga, namun demi menutupi rasa malu orang tua, akhirnya pernikahan yang tidak diinginkan itu terjadi,” jabar Reni yang sekarang bekerja sebagai freelance.
Maka dari itu, Reni ingin dari film pendeknya ini, tak hanya berhenti sebagai tontonan. Namun juga sebagai bahan diskusi, mengenai edukasi seksual bagi orang tua, anak, serta sekolah dalam menanggapi masalah tersebut.
Hal itu dibuktikan, dari adanya pemutaran dan diskusi keliling film Telur Setengah Matang ke berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Solo dan ke Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo, dan ke beberapa sekolah, serta komunitas “Kita sejak 2019 sudah keliling ke beberapa tempat, demi mengedukasi sesama, anak, orang tua dan sekolah,” sebutnya.

Dalam film dan diskusi, Reni menegaskan jika hal tersebut bukan langsung mengarah pada pro aborsi “Namun lebih pada mendengar dari sudut perempuan dan remaja yang belum siap membina rumah tangga,” tegasnya.
Pembuatan film pendek berdurasi 16 menit ini, dirajut oleh 30 orang yang tergabung dalam sebuah kolektif bernama Larasati Creative Lab dan telah masuk dalam kategori 10 finalis di Viddseeid 2021 “Kita optimis saja film ini akan masuk ke grandfinal, karena film ini penting untuk didiskusikan dan dilihat banyak orang,” ujar perempuan yang lahir di Kediri ini.
Terlepas dari sebuah kompetisi, Reni dan kawan-kawannya berharap jika filmnya bisa menjadi sarana terbukanya diskusi dan edukasi antara orang tua, anak dalam menghadapi masalah, serta sikap sekolah jika menghadapi masalah tersebut “Bagaimana sekolah memberikan edukasi seksual dan tindakan yang preventif, jika terdapat masalah tersebut,” pungkasnya. (jel)










