Jakarta (pilar.id) – Manajer Komunikasi Korporat PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), Emir Monti, menyampaikan kabar gembira pada Jumat (27/10). Ia mengungkapkan bahwa Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang merupakan kereta cepat pertama di Indonesia, telah mengangkut 58.000 penumpang sejak beroperasi secara komersial.
Dengan nama resmi Whoosh, KCJB memulai layanan komersialnya pada awal bulan Oktober 2023. Emir Monti mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap KCJB sangat tinggi, dengan penjualan 58 ribu tiket dalam waktu yang singkat.
“Kami melayani sekitar 7.000 penumpang per hari, dengan tingkat keterisian rata-rata mencapai 90 persen. Hal ini mencerminkan antusiasme masyarakat terhadap kereta cepat,” ujarnya.
Untuk memenuhi tingginya permintaan, KCIC telah meningkatkan layanannya dari 14 menjadi 25 perjalanan kereta setiap harinya.
Emir Monti menjelaskan bahwa lonjakan penumpang yang signifikan terjadi karena KCIC sedang memberikan promo khusus dengan harga tiket sebesar Rp 150 ribu untuk sekali jalan. Promo ini berlangsung dari 18 Oktober hingga 30 November 2023.
Dengan kecepatan maksimal yang dirancang mencapai 350 km per jam, KCJB yang membentang sepanjang 142,3 km ini berhasil memangkas waktu perjalanan antara Jakarta dan Bandung dari tiga jam lebih menjadi sekitar 40 menit.
Revolusi Transportasi Indonesia
Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh, menjadi proyek kereta cepat pertama di Indonesia dan yang tercepat di Asia Tenggara. Inisiasi proyek ini dimulai pada tahun 2015 melalui kerja sama dengan pemerintah Tiongkok. Kereta cepat ini mampu mencapai kecepatan hingga 350 km per jam, bahkan mencapai 354 km per jam pada kecepatan maksimalnya.
Dengan jarak perjalanan sepanjang 142,3 kilometer, KCJB membawa penumpang dari Stasiun Halim, melalui Stasiun Karawang, Padalarang, hingga tiba di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, dalam waktu tempuh hanya 36 hingga 44 menit. Ini menandakan peningkatan signifikan dibandingkan dengan perjalanan kereta konvensional yang memerlukan waktu 3 hingga 4 jam.
Kereta ini diberi nama “Whoosh” oleh Presiden Joko Widodo, singkatan dari “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.” Whoosh mewakili semangat kecepatan dan inovasi dalam transportasi.
Selama periode uji coba publik yang dimulai pada September 2023, masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Uji coba ini berlangsung selama tiga minggu dan menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari masyarakat.
Menko Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa selama uji coba, masyarakat dapat menaiki KCJB tanpa biaya hingga pertengahan Oktober 2023. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai operator Whoosh menyediakan sekitar 500 kuota untuk empat jadwal perjalanan pulang-pergi selama masa uji coba. Stasiun yang beroperasi selama uji coba ini terbatas pada Stasiun Halim dan Stasiun Tegalluar.
Selama operasionalnya nanti, KCJB akan diintegrasikan dengan moda transportasi lainnya di Jakarta dan Bandung, termasuk light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT). PT KAI juga telah menyiapkan kereta api feeder KCJB yang akan menghubungkan Stasiun Utama Kereta Cepat Padalarang di Kabupaten Bandung Barat dengan Stasiun Feeder Cimahi di Kota Cimahi dan Stasiun Feeder Bandung di Kota Bandung. Ini akan memungkinkan penumpang dari stasiun feeder untuk melanjutkan perjalanan dengan bus rapid transit (BRT) Bandung Raya.
Harga tiket integrasi antarmoda transportasi umum, yang mencakup KCJB, telah diusulkan sebesar Rp300.000. Ini akan mencakup berbagai moda transportasi umum. Proyek senilai USD7,3 miliar ini menghubungkan Jakarta dengan Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, dan diharapkan akan mendukung pertumbuhan kawasan bisnis, pariwisata, dan residensial di sepanjang jalur kereta Whoosh.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung adalah tonggak sejarah baru dalam perkembangan transportasi di Indonesia, menandai hadirnya kereta cepat pertama di Asia Tenggara. Dengan Whoosh, transportasi menjadi lebih efisien dan mobilitas masyarakat semakin lancar. Kereta cepat ini tidak menggantikan layanan kereta api reguler Jakarta-Bandung, seperti KA Argo Parahyangan, yang tetap beroperasi. KCJB adalah manifestasi dari semangat inovasi dan kemajuan dalam transportasi Indonesia yang berkelanjutan. (hdl)







