Surabaya (www.pilar.id) – Siapa yang tak menyangka dapur dapat menjadi objek inspirasi dalam membuat sebuah karya pementasan tunggal. Hal itulah yang dilakukan oleh Dyah Ayu Setyorini, dalam karya tunggalnya. Ading nama panggungnya ini, lebih memilih dapur sebagai ruangan yang banyak memiliki arti dan perspektif.
Karya tunggaalnya ini, ia beri nama The Kitchen Seasoned by Cessation. Dalam penjelasannya pada Bincang Karya bertajuk The Kitchen: Totems Memories and Cesspits yang dilakukan secara hybrid pada Minggu (14/11/2021) ini, yang bekerjasama dengan Sasana Skenografi dan Majelis Dramaturgi.
Dirinya menjelaskan, jika ia ingin menggambarkan peran dapur sebagai ruang pelayanan yang menghidupkan modul-modul operasional. Jika tidak ada pelayanan maka dapur tidak berproduksi.
Atas pandangan itulah, Ading mencoba menggambarkan, jika dapur kehilangan produksinya, akan bagaiamana keadaan rumah atau sebuah operasional yang kehilangan ruang produksinya.
Maka dari itu, wanita berumur 28 tahun ini mulai menyusun naskah serta lakon-lakon yang menggambarkan realitas skenografis benda-benda yang akan berperan dalam karyanya “Selama proses pembuatan naskah, saya mendapat temuan jika dapur biasanya identik dengan perempuan yang mengarah pada patriaki,” jelasnya.
Karya yang berdurasi sekitar 6 menit, telah diproduksi sejak Oktober tahun ini. Karya ini baginya, sebagai pembuka dari sesi-sesi karya dapur lainnya yang masih mengangkat dapur sebagai objek utamanya. Kedepannya, Ading ingin pembaca atau penonton dapat berkolaborasi dengannya ikut terjun dalam berkarya.
“Makanya judulnya The Kitchen Seasoned, bukan abonded. Jadi harus ada keberlanjutannya,” ungkapnya Ading yang juga bekerja sebagai wartawan ini.
Dalam sesi bincang karya ini. Peserta webinar bebas mengomentari dan memaknai karya Ading yang mencoba membaca ulang dapur yang sudah ditinggalkan, beserta hubungannya yang melekat di dapur tersebut.
Seperti yang disampaikan oleh Gulang Satriya Pangarso. Dirinya bercerita jika membahas dapur, ia akan teringat dengan budaya Nyinom. Yaitu budaya masak secara gotong royong di Jawa, saat tetangga atau kerabat menyelenggarakan acar besar, seperti pernikahan atau sunatan.
Galung menyampaikan, jika kini di kota-kota besar. Dapur semakin ditinggalkan dan lebih memilih memesan makanan cepat saji melalui aplikasi makanan.
” Kehidupan perkotaan, lihat dapurnya kotor. Tidak dibersihkan, malah membeli makanan dari luar, dan penuh dengan makanan cepat saji. Peran dapur di kota sudah tak menjadi bagian penting. Paling-paling cuman buat masak mie dan air,” jabarnya.
Hal serupa jika disampaikan oleh, Shofifur Ridho’i jika karya Ading merupakan sebuah pandangan seseorang terhadap keadaaan ekonomi yang sekarang serba online.
Kedepannya, Ading ingin pembaca atau penonton dapat berkolaborasi dengannya dalam karya The Kitchen lainnya.
“Naskah ini belum selesai dan akan membentuk dramaturgi lakon dengan proses kolaborasi yang berusaha memperlebar bahasa dan sudut pandang,” tutupnya. (jel)

