Surabaya (pilar.id) – Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim) mencatat adanya peningkatan dalam ekspor perhiasan atau permata (HS 71) selama bulan Desember 2023 dan sepanjang tahun 2023.
Selain itu, tembaga juga menjadi salah satu komoditas utama ekspor dari Jawa Timur, sebagian besar diekspor dalam bentuk Katoda dan bagian katoda.
Menurut Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Debora Sulistya Rini, pemerintah masih memberikan kesempatan bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mineral logam, terutama untuk lima komoditas, untuk menjual hasil pengolahan mineralnya ke luar negeri sampai dengan Mei 2024.
“Relaksasi ekspor ini terbatas pada komoditas tembaga, besi, timbal, seng, dan lumpur anoda hasil pemurnian tembaga,” kata Debora.
Pentingnya antisipasi muncul karena rencana pelarangan ekspor yang akan dimulai pada Mei 2024, terutama dengan beroperasinya smelter tembaga PT Freeport Indonesia di kawasan ekonomi khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik.
Smelter tersebut dijadwalkan untuk beroperasi pada Mei 2024 dan akan mencapai kapasitas penuhnya secara bertahap pada Desember 2024.
Negara-negara utama tujuan ekspor perhiasan dari Jawa Timur melibatkan Swiss, Jepang, Hong Kong, dan Singapura. Sementara itu, komoditas unggulan ekspor Jawa Timur lainnya, HS 15 (Lemak dan minyak hewani/nabati), sebagian besar diekspor dalam bentuk minyak kelapa sawit cair dan shortening.
Negara utama tujuan ekspor HS 15 melibatkan Tiongkok, Malaysia, dan Nigeria. Komoditas ini kembali menjadi unggulan setelah Pemerintah membuka kembali ekspor minyak goreng pada 23 Mei 2022. (ret/hdl)










