Membangun kearifan lokal dalam bersosial media merupakan upaya untuk menjaga nilai-nilai budaya, etika, dan norma lokal dalam penggunaan teknologi modern. Kearifan lokal sangat penting dalam menciptakan ekosistem sosial media yang sehat, beretika, dan relevan dengan konteks budaya kita.
Di banyak produk sosial media, kita akan menemukan upaya-upaya yang sejatinya memperkuat kearifan lokal di sosial media. Lihat saja, bagaimana penggunaan bahasa daerah di media sosial bukan hal tabu, bahkan dapat pujian gara-gara dianggap memperkaya keberagaman bahasa dan melestarikan budaya lokal.
Selain itu, menyebarkan informasi atau cerita tradisi dalam bahasa lokal juga dapat memperkenalkan generasi muda dan masyarakat luas pada kekayaan bahasa dan budaya setempat.
Sosial media, produk yang kerap disebut hasil impor global, dapat dijadikan sarana untuk mempromosikan adat istiadat, nilai-nilai moral, dan norma sosial yang positif. Misalnya, nilai gotong royong, saling menghormati, atau keramahan khas budaya lokal. Hal sederhana, kita juga bisa memposting cerita inspiratif tentang tokoh-tokoh lokal atau sejarah budaya juga akan membangun rasa kebanggaan terhadap kearifan lokal.
Sayangnya, di sisi lain, ada juga yang terburu-buru membuat citra budaya lokal sebagai subject bodoh dan ketinggalan jaman. Harusnya tiap ‘manusia produk lokal’ mau menyaring informasi yang akan dibagikan di media sosial. Edukasi tentang pentingnya menjaga kesantunan dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal, sesuai dengan norma budaya setempat perlu diterapkan.
Media Sosial untuk Pelestarian Budaya
Sosial media bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan warisan budaya, seperti upacara adat, seni tradisional, kuliner, dan kearifan lokal lainnya. Membuat konten-konten yang mempromosikan produk-produk lokal atau pariwisata budaya juga merupakan cara untuk menjaga kelangsungan budaya dalam era digital.
Budaya yang melekat pada diri kita, misalnya etika dalam berbicara sopan, menghindari ujaran kebencian, dan menjaga privasi, merupakan refleksi dari nilai-nilai kearifan lokal yang bisa diterapkan dalam dunia maya. Memahami bahwa setiap komunitas memiliki nilai-nilai lokal masing-masing, seperti kesopanan dan adat istiadat yang berbeda, sehingga penting untuk tidak melanggar norma tersebut saat berinteraksi secara online.
Di media sosial, kita bisa mendukung gerakan yang bertujuan melestarikan nilai-nilai lokal, seperti gerakan melestarikan lingkungan alam, kampanye anti-plastik yang didasarkan pada tradisi ramah lingkungan lokal. Membagikan dan mendukung konten lokal yang mengedepankan pelestarian budaya dan tradisi dapat memperkuat kesadaran kolektif.
Membuat konten kreatif seperti video, gambar, atau artikel yang menonjolkan budaya dan kearifan lokal, namun disajikan dalam format yang menarik untuk audiens digital. Misalnya, mengembangkan konten kreatif tentang tarian tradisional, makanan khas, atau cerita rakyat, yang dipadukan dengan tren konten viral di media sosial.
Dengan langkah-langkah ini, media sosial bisa menjadi ruang yang tidak hanya modern, tetapi juga tetap mengakar pada nilai-nilai lokal yang kaya, menjaga identitas budaya, serta membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kearifan lokal di era digital.
Anak Muda dan Kearifan Lokal
Pertanyaan bahwa anak muda yang mendominasi media sosial apakah bisa menerima kearifan lokal memang relevan. Karena ada anggapan bahwa media sosial, yang sangat digemari oleh anak muda, cenderung membawa pengaruh global yang mungkin bertentangan dengan semangat kearifan lokal.
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bahwa kearifan lokal dianggap kuno dan tidak relevan bagi anak muda.
Namun, ada beberapa alasan mengapa kearifan lokal dan media sosial tidak harus berkontradiksi, melainkan bisa saling mendukung jika diimplementasikan dengan bijak.
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bahwa kearifan lokal dianggap kuno dan tidak relevan bagi anak muda. Namun, kearifan lokal sebenarnya adalah prinsip hidup dan nilai-nilai budaya yang fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai seperti gotong royong, sopan santun, dan menghargai lingkungan memiliki tempat yang penting di era digital.
Justru, media sosial memberikan peluang besar untuk memodernisasi, mempopulerkan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal dalam format yang menarik bagi anak muda. Misalnya, konten tentang tradisi lokal yang dikemas dengan kreativitas digital dapat menjadi viral dan diminati oleh generasi muda.
Anak muda sering dianggap sebagai agen perubahan dan pembawa inovasi. Mereka adalah kelompok yang sangat adaptif terhadap teknologi dan bisa mengembangkan pendekatan baru dalam mengangkat kearifan lokal melalui media sosial. Jika didorong, anak muda dapat memanfaatkan platform media sosial untuk mengekspresikan identitas budaya mereka dengan cara yang segar dan relevan.
Banyak anak muda yang kini semakin tertarik dengan gerakan “kembali ke akar budaya” atau menjadi lebih sadar tentang pelestarian lingkungan dan budaya tradisional. Misalnya, tren menggunakan produk lokal atau kampanye yang menghargai tradisi dan alam banyak diusung oleh generasi muda di media sosial.
Media sosial memungkinkan penggabungan kearifan lokal dengan tren global. Contohnya, musik tradisional bisa diolah menjadi bentuk modern seperti musik EDM atau hip-hop, tetapi tetap mempertahankan elemen budaya lokal. Tarian tradisional bisa dibuat dalam format TikTok yang lebih modern, dan kuliner tradisional bisa dipromosikan sebagai bagian dari gerakan slow food yang global.
Konten-konten seperti ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang kuno dan tak menarik bagi anak muda. Sebaliknya, mereka bisa membuat budaya lokal menjadi lebih hidup dan diterima oleh audiens yang lebih luas.
Kreativitas Anak Muda
Anak muda umumnya sangat kreatif dalam menciptakan konten digital. Mereka dapat mengemas cerita-cerita rakyat, seni, dan budaya lokal dalam bentuk yang inovatif seperti video pendek, animasi, meme, atau infografis. Ini bisa menjadi cara yang efektif untuk menarik minat lebih banyak orang, termasuk generasi muda lainnya.
Anak muda dapat mempelajari dan menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal seperti solidaritas, kesederhanaan, toleransi, dan tanggung jawab sosial
Banyak juga anak muda yang terlibat dalam mempromosikan pariwisata lokal melalui platform seperti Instagram, YouTube, atau TikTok. Mereka menampilkan keindahan alam dan budaya lokal dalam format visual yang menarik, membantu meningkatkan kesadaran dan kebanggaan akan kearifan lokal.
Media sosial bukan hanya tempat untuk hiburan, tetapi juga bisa menjadi platform edukasi. Anak muda dapat mempelajari dan menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal seperti solidaritas, kesederhanaan, toleransi, dan tanggung jawab sosial melalui konten yang menarik. Banyak influencer lokal atau konten kreator muda yang sudah mulai mempromosikan nilai-nilai etika lokal di media sosial, seperti sopan santun, perilaku ramah lingkungan, atau pentingnya menghargai perbedaan.
Ada contoh? Sudah banyak contoh anak muda yang berhasil memadukan kearifan lokal dengan teknologi digital. Misalnya, ada kelompok-kelompok pemuda yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kain tenun, batik, atau kuliner tradisional hingga terkenal secara internasional.
Komunitas kreatif berbasis budaya lokal, seperti gerakan seni mural yang terinspirasi oleh mitologi lokal, juga menjadi salah satu cara bagaimana anak muda menghidupkan kembali kearifan lokal melalui platform global seperti Instagram.
Tentu saja ada tantangan dalam menjaga keseimbangan antara budaya global dan lokal di media sosial. Namun, solusi terbaik adalah melalui edukasi digital tentang etika dan kesadaran budaya. Jika anak muda diberi pemahaman yang baik tentang pentingnya menghormati budaya lokal, mereka bisa menjadi generasi yang tidak hanya terhubung dengan dunia global, tetapi juga bangga dengan akar budaya mereka.
Media sosial sebenarnya dapat membantu generasi muda untuk lebih memahami identitas mereka sendiri. Dengan memperkenalkan budaya lokal di dunia global, anak muda dapat menemukan rasa bangga akan warisan budaya mereka dan merasa memiliki koneksi yang lebih kuat dengan sejarah dan nilai-nilai mereka.
Mengkombinasikan identitas lokal dan keterbukaan terhadap budaya global adalah salah satu tantangan sekaligus kekuatan yang dimiliki oleh anak muda saat ini.
Jadi, anak muda bukanlah ancaman bagi kearifan lokal. Justru, jika diarahkan dengan tepat, mereka bisa menjadi penjaga dan pengembang budaya lokal di dunia digital. Media sosial bisa menjadi alat untuk mengekspresikan, melestarikan, dan bahkan mengembangkan kearifan lokal dengan cara-cara yang lebih inovatif dan relevan bagi generasi sekarang. Kuncinya adalah bagaimana memberikan edukasi yang tepat tentang pentingnya nilai-nilai lokal, sekaligus memfasilitasi anak muda untuk berkreasi dan menyatukan lokalitas dengan kreativitas digital mereka.
Mohammad Zurqoni adalah pemerhati budaya dan media sosial, alumni Stikosa AWS









