Surabaya (pilar.id) – Lima mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas konsep “Ruang Apung” sebagai upaya memperkuat visibilitas perempuan dalam budaya Petik Laut di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Gagasan tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Sosial Humaniora (RSH) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Penelitian yang mengangkat tema revitalisasi ruang bagi perempuan pesisir itu berangkat dari realitas sosial yang masih menempatkan kontribusi perempuan di balik layar tradisi Petik Laut. Meski memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, keterlibatan perempuan dalam ruang publik dan pengambilan keputusan dinilai masih terbatas.
Tim peneliti yang menamakan diri “Ruang Apung” terdiri atas Dina Fadiah, Ezza Rafiekaningrum, Malikah Qurrota Aini, dan Muhammad Yasir Dharmawan Diniy dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Muhammad Aqeel Ramadhan Nurcahyo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Penelitian tersebut dibimbing oleh Nur Syamsiyah, S.Sosio., M.Sc.
Ketua tim, Dina Fadiah, menjelaskan bahwa perempuan selama ini memegang peran strategis dalam pelestarian budaya Petik Laut. Mereka terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari persiapan ritual, pewarisan nilai budaya kepada generasi muda, hingga menjaga tradisi yang menjadi identitas masyarakat pesisir Bawean.
Namun demikian, peran tersebut belum sepenuhnya terlihat di ruang publik. Kondisi inilah yang mendorong tim untuk menghadirkan pendekatan baru yang dapat memperkuat posisi perempuan tanpa menghilangkan akar budaya yang telah lama berkembang di masyarakat.
Selain aspek budaya, penelitian tersebut juga didorong oleh perhatian terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi perempuan pesisir. Muhammad Aqeel Ramadhan Nurcahyo mengungkapkan bahwa sejumlah data menunjukkan masih tingginya kerentanan perempuan terhadap berbagai bentuk kekerasan di wilayah pesisir, termasuk di Pulau Bawean. Karena itu, penelitian ini dirancang untuk mendorong terciptanya lingkungan sosial yang lebih inklusif dan partisipatif.
Konsep utama yang ditawarkan adalah revitalisasi “Ruang Apung”, sebuah ruang aman yang tidak hanya dipahami sebagai tempat fisik, tetapi juga ruang sosial bagi perempuan untuk menyampaikan aspirasi, berekspresi, berdiskusi, serta berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan di masyarakat.
Menurut Dina, ruang tersebut diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam pembangunan komunitas pesisir tanpa menghadapi hambatan dominasi budaya patriarki yang selama ini masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah.
Tidak berhenti pada isu pelestarian budaya dan kesetaraan gender, penelitian ini juga diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir. Muhammad Yasir Dharmawan Diniy menjelaskan bahwa tim peneliti berencana membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga perlindungan perempuan dan anak, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan secara nyata.
Melalui pendekatan tersebut, perempuan Pulau Bawean diharapkan tidak hanya menjadi penjaga tradisi Petik Laut, tetapi juga memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Kehadiran Ruang Apung juga diharapkan mampu menjadi sarana penguatan kapasitas perempuan sekaligus meningkatkan pengakuan terhadap peran mereka dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Pendanaan yang diperoleh dari PKM RSH 2026 menjadi langkah awal bagi tim mahasiswa UNAIR untuk mengembangkan model pemberdayaan berbasis budaya yang dapat memberikan manfaat jangka panjang. Mereka berharap penelitian ini mampu menghasilkan ruang yang aman, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan di Pulau Bawean serta menjadi contoh praktik baik dalam penguatan visibilitas gender di kawasan pesisir Indonesia.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu pemberdayaan perempuan dan pelestarian budaya lokal, gagasan Ruang Apung menawarkan pendekatan yang menghubungkan keduanya. Inovasi sosial yang lahir dari kalangan mahasiswa ini dinilai berpotensi memperkuat posisi perempuan sebagai penjaga tradisi sekaligus aktor penting dalam pembangunan masyarakat pesisir yang lebih setara dan berdaya. (usm/hdl)










