Tuban (pilar.id) – Warga Perumahan Bukit Karang Blok AI, Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban dibikin geger gara-gara munculnya ular piton di halaman salah satu warga pada tengah malam.
Melihat ular sepanjang tiga meter ini, warga langsung menghubungi petugas Satpol PP dan petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban.
“Kita mendapatkan laporan dari warga yang tinggal di Perum Bukit Karang Blok AI yang mengetahui ada ular berada di halaman rumahnya. Keberadaan Ular itu meresahkan warga,” jelas Gunadi, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban, Senin (7/3/2022) dini hari tadi.
Mendapat laporan warga, lanjutnya, sejumlah petugas langsung datang ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Sesampai di lokasi petugas Satpol PP dan Damkar mendapati ular piton itu masih berada di halaman rumah. Bergegas, mereka segera melakukan tindakan untuk mengevakuasi ular tersebut.
Pada hari yang sama, petugas dari Satpol PP dan Damkar Kabupaten Tuban juga berhasil melakukan evakuasi terhadap ular piton di kawasan kadang ayam milik warga Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.
“Jadi pada hari Minggu dini hari kemarin kita menangkap dua ular yang meresahkan warga. Selanjutnya untuk ular yang berhasil dievakuasi kemudian dibawa ke Kandang Ular yang ada Mako Induk,” terang Gunadi.
Akhir Februari 2022 lalu, petugas Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan Bojonegoro juga melakukan evakuasi ular di pemukiman warga, tepatnya di Desa Klampok, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Saat itu petugas mengevakuasi ular Sanca Kembang (Python Reticulatus) sepanjang emapt meter di dalam drainase.

Beberapa saat sebelumnya, ular serupa dengan panjang 2,5 meter juga ditemukan di dua rumah sekaligus di Desa Kadipaten, Bojonegoro. Saat itu petugas damkar juga datang untuk melakukan evakuasi. Ular pertama sudah masuk dalam rumah warga, sementara ular ke dua di halaman rumah.
Menurut Nurdin Razak, pemerhati satwa liar sekaligus ecoturism counselor, fenomena munculnya satwa liar di rumah atau pemukiman warga ini tak lepas dari kondisi global warming yang meruncing di beberapa bulan terakhir.
“Ular-ular ini bisa jadi sedang kesulitan untuk mencari makanan,” ungkapnya pada pilar.id, Senin (7/3/2022). Dikatakan, karena hujan datang lebih cepat, dan suhu udara tak menentu, ketersediaan makanan alami mengalami penurunan.
Di Baluran, Jawa Timur misalnya, lanjut Nurdin, pepohonan mangga di rumah warga yang bisa dapat 700 kilogram sekali panen, kini tersisa 20 persen. Hal yang sama juga terjadi di hutan atau semak-semak tempat tinggal satwa. Sama-sama ada penurunan. Dan ini berdampak pada rantai makanan.
Secara teknik pertanian, manusia bisa bersiasat dengan menyemprot anti hama agar lalat buah tidak merusak. Kalau satwa tentu tidak bisa, semua berjalan alami.
“Begitu makanan di tempatnya berkurang atau tidak ada, mereka akan berpindah mencari tempat tinggal yang suhunya sesuai dengan tubuh mereka. Dan mereka juga sibuk mencari makan saat di tempat tinggalnya tidak ada makanan,” jelasnya.
Kemungkinan lain, kata Nurdin, bisa jadi ular ini habitatnya terganggu. Karena jenis sanca batik, kerap diburu gara-gara kulitnya yang mahal. Atau tempat tinggal mereka digusur untuk hunian atau pabrik. “Secara alamiah, mereka akan berpindah dan mencari tempat tinggal baru,” kata Nurdin. (hdl)










