Jakarta (pilar.id) – Perdana Menteri (PM) Malaysia Dato’ Seri Anwar Bin Ibrahim berbicara banyak hal terkait pemicu keretakan hubungan antara Malaysia dan Indonesia. Ia berbicara mulai dari tenaga kerja Indonesia (TKI), lagu Rasa Sayange yang diklaim Malaysia, termasuk Bengawan Solo.
“Isu pekerja dan TKI yang saya tahu ya. Ini di Indonesia banyak masalah, ‘Rasa Sayange’ pun masalah. Tapi ‘Bengawan Solo’ tidak isu, karena sudah tahu memang di Solo,” kata Anwar Ibrahim, di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (9/1/2022).
Anwar berjanji tak akan memantik memancing persoalan di masa depan. Ia berharap, hubungan Indonesia-Malaysia dapat diperbaiki dan terjalin hubungan kerja sama yang baik.
“Kerana saya mahu hubungan Malaysia-Indonesia itu agar kategorinya spesial dan saya harap kedua Menteri Luar paham bahwa komitmen kita begitu rupa,” kata dia.
Untuk TKI, Anwar memberikan perhatian khusus. Persoalan tersebut tak hanya mengganggu perasaan rakyat Indonesia, tapi juga pemerintah. Ia lantas menceritakan tentang pengalamannya di penjara. Ia menilai hukum cambuk kurang manusiawi.
“Dan alhamdulillah untuk tahun ini, tahun lalu 2022, soal cambuk itu sudah dihentikan,” kata Anwar.
Meski hukum cambuk sudah dihentikan, tetapi menurut Anwar masih belum cukup untuk menyelesaikan persoalan para TKI. Ia menekankan agen TKI tidak hanya mengambil keuntungan dengan mengirim para pekerja. Menurutnya, penerapan One Channel System (OCS) dapat mengurangi peran agen.
“Dan, saya dapat, pengakuan kami berdua, untuk memastikan kerja-kerja agensi pekerja ini harus hanya sekadar fasiliti mempermudahkan dan tidak hanya mengambil keuntungan berlebihan untuk menekan bekerja di peringkat bawahan,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyambut baik komitmen PM Malaysia tersebut untuk melindungi pekerja migran Indonesia (PMI) yang ada di Malaysia dan berharap penerapan One Channel System (OCS) dapat dijalankan secara bersama. Selain itu, Jokowi juga menekankan mengenai pentingnya pembangunan community learning center di Semenanjung, Malaysia untuk memenuhi hak pendidikan anak-anak pekerja migran Indonesia.
“Saya sangat berharap One Channel System (OCS) untuk perekrutan dan penempatan pekerja migran Indonesia benar-benar bisa kita jalankan bersama,” kata Jokowi. (ach/hdl)










