Jakarta (pilar.id) – Anggota Dewan Pakar DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Wayan Supadno optimistis potensi sawit Indonesia ke depan masih cerah. Meskipun, saat ini perkembangan bisnis sawit sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik.
“Saya percaya politisi kita akan serius memperhatikan petani kita yang kreatif dan produktif,” kata Wayan kepada Pilar.id, di Jakarta, Selasa (27/7/2022).
Dunia, lanjut Wayan, sangat membutuhkan produksi sawit Indonesia. Karena itu, ia menyambut positif rencana pemerintah untuk membuka keran ekspor crude palm oil (CPO).
“Karena domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO) itu perlakuan yang berlebihan ketakutannya,” kata Wayan.
Kebutuhan CPO domestik, menurut Wayan hanya sebesar 194 ribu kilo liter. Sementara yang ditahan hampir 9 juta ton. “Itu kan sangat tidak logis,” tegasnya.
Saat ini, harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani masih murah, yakni sekira Rp1200-an. Ia berharap, harga TBS sawit bisa naik minimal Rp2500. “Kalau tidak ya petani mati,” kata dia.
Menurut Wayan, percuma saja pemerintah mendapatkan pajak dan devisa dari ekspor CPO. Namun, pada saat yang bersamaan pemerintah juga membuat kemiskinan massal secara dadakan. “Itu kan nggak ada gunanya,” tutupnya. (Akh/din)

