Surabaya (www.pilar.id) – Belajar biola secara otodidak sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), membuat Arul Lamandau ingin mengenalkan keahliannya pada semua orang yang ingin mempelajari musik gesek ini.
Bekerja sebagai penjual Es Tape, tak membuat dirinya merendah, bahkan Arul aktif menjadi aktivis seni atau relawan bencana alam, beserta komunitas yang ia ikuti.
“Terakhir saya jadi relawan waktu ada bencana banjir bandang di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, ya membantu dan juga menghibur mereka dengan permainan Biola saya,” ceritanya.
Meski begitu, laki-laki berusia 39 tahun ini. Sempat membuka kelas musik Biola di Balai Pemuda secara gratis tanpa uang, yang sekarang pindah di Kebun Bibit Surabaya, setiap hari Minggu. Walau tak menghasilkan uang, ia cukup bangga atas yang ia lakukan.
Arul juga sering diundang pada acara-acara yang mengundang pemain biola, seperti di hotel Ibis dan event di luar kota, serta kerap memperingati hari-hari tertentu dengan menggelar permainan tunggal di pinggir jalan
“Biasanya setiap 10 November, Earth day atau bahkan saat hari Sastra,” sebut Arul.
Arul yang sudah bermain Biola sejak umur 17 tahun ini, mengaku jika kegiatan sebagai aktivis seniman dan relawannya. Selalu didukung penuh oleh keluarga kecilnya
“Istri, anak serta orang tua mensuport setiap kegiatan aktivis, tetapi tetap saya harus memenuhi nafkah keluarga kecil saya dengan sering manggung dan jual es tape, jika tidak ada kegiatan,” jelas bapak satu anak ini.
Dirinya berharap dari semua gerakan sosial yang ia lakukan, dapat berdampak baik bagi orang dibantunya, serta menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya sebuah peringatan.
“Seperti di kegiatan terakhir saya kemarin, bermain Biola selama 45 jam, di depan hotel Majapahit Surabaya. Dalam memperingati Hari Pahlawan dan menjadikan hari Pahlawan sebagai hari libur Nasional,” tutupnya. (jel)

