Jakarta (pilar.id) – Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aisah Putri Budiatri menilai, banyaknya partai baru di Pemilu 2024 bisa menjadi alternatif pilihan bagi pemilih yang merasa jenuh atau tidak yakin bahwa partai lama akan membawa perubahan.
“Terutama melihat fenomen dalam beberapa tahun belakangan, kata Putri, partai besar yang saat ini eksis cenderung tidak memiliki ideologi yang kuat, terjebak pragmatisme politik, politisinya banyak tersangkut korupsi, dan masalah lainnya,” kata Putri, Kamis (18/8/2022).
Pendaftaran calon peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 resmi ditutup pada Minggu (14/8/2022) pukul 23.59 WIB. Terdapat 40 partai politik yang telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai peserta Pemilu 2024.
Dari jumlah 40 parpol yang mendaftar, sebanyak 24 partai politik lolos ke tahap verifikasi setelah berkasnya dinyatakan lengkap oleh KPU. Sementara 16 partai lain masih dalam tahap pemeriksaan.
Beberapa nama partai politik baru muncul sebagai calon peserta Pemilu 2022 yang lolos ke tahap verifikasi. Partai yang tidak lolos verifikasi akan diberikan waktu untuk perbaikan pada 15-28 September 2022.
Khusus partai nonparlemen yang lolos verifikasi, mereka juga akan diverifikasi secara faktual sebelum dinyatakan sebagai peserta pemilu.
Belajar dari pengalaman pemilu sebelumya, kata Putri, nampak tidak mudah bagi partai-partai baru untuk bisa lolos verifikasi dan menang berkompetisi melawan partai-partai petahana dalam parlemen. Andaipun partai baru lolos verifikasi tapi gagal masuk DPR.
Di sisi lain, sistem pemilu saat ini tidak bersahabat untuk partai baru karena kriteria data pemilih (dapil) yang luas, malah menyulitkan partai baru tersebut. Maka dari itu, Putri menegaskan bahwa partai baru harus memiliki kesiapan modal finansial dan sosial yang kuat.
“Tetapi tentu kedua hal tersebut tidak mudah dimiliki bagi partai baru, meski bukan tidak mungkin,” tegasnya.
Oleh karenanya, partai baru harus memberikan alasan kuat bagi pemilih untuk menjadikannya berbeda dengan partai lama. Para partai baru harus bisa membuat partainya menjadi pilihan strategis bagi pemilih ke depan.
“Partai baru harus berani menarik ceruk pemilih yang potensial besar termasuk pemilih muda, apalagi banyak anak muda saat ini melek politik dan mencari kebaruan dalam politik indonesia, termasuk partainya,” ujarnya. (her/din)

