Surabaya (Pilar.id) – Berangkat dari kebingungan karena tak mendapat pekerjaan, dan kebosanan karena tak melakukan apapun, Uzzaer Ruwaidah mulai membuat sebuah karya di tahun 2019.
Saat itu ia pindah dari Surabaya ke Tuban. Di tengah rasa bosan, ia mulai menuang apa yang dirasa dengan menciptakan 6 karya seni batik tulis.
Karya ini sekaligus tercipta atas keprihatinannya melihat burung perkutut yang berada di sekitar rumahnya di Tuban tersebut, yang demi hari kian berkurang, serta membuat puluhan karya kain dari eco print yang memanfaatkan daun, bunga serta batang tumbuhan dalam menghasilkan karya tersebut.
“Saya itu kayak orang kebingungan kalau tidak bekerja, karena sebelumnya di Surabaya saya banyak pekerjaan, namun di Tuban saya tak kunjung dapat pekerjaan. Akhirnya saya buat-buat karya seni ini,” ujar wanita 47 tahun tersebut.
Dua jenis karya yang mulai dikerjakan di tahun 2019 itu, Ruwaidah pamerkan dalam pameran tunggalnya di diselenggarkan dari tanggal 1 sampai 3 Februari 2022 di Gedung Aksera, jalan Dukuh Kupang 27 Nomor 20, Surabaya dengan mengangkat satu tema yaitu Bermain.
Tema Bermain dibagi menjadi dua nama, yaitu Bermain Jejak Daun yang merupakan karya kain eco print, yang memanfaatkan bunga, daun dan batang dari tumbuhan sebagai pewarna kain dan objek pada kain tersebut. Seperti daun keres, jati, lanang dan daun lainnya.

“Eco print itu kan mengambil dari alam, daun, bunga, batang yang berarti kita mengeksploitasi alam. Saya menanam, ada palama, lana, kastuba, mimbo dan lainnya. Apa yang saya butuhkan akan saya tanam. Jadi pameran ini juga, sebagai ajakan jangan ekploitasi alam,” paparnya.
Sedangkan pada kain batik tulis, yang ia beri nama Bermain Disekitar, menggambarkan burung yang semula bebas, terkurung, bebas, bisa terjaring lagi dan bisa bebas kembali.
“Batik tulis saya sudah ada dua laku saat pameran di Tuban tahun kemarin, yang disini tinggal 4 saja. Karya eco print saya sebenarnya banyak di rumah, tapi yang saya bawa ke pameran ini sekitar 30,” sebut lulusan ITATS Arsitektur tahun 97 ini.
Lebih rinci, Ruwaidah menyampaikan jika pameran tunggal keempatnya yang membawa karya batik tulis dan kain eco print ini merupakan hasil seleksi dari Aksera atas beberapa karya yang masuk dan merupakan pameran pertama kalinya yang memamerkan hasil karya kain.
“Di Aksera tak semua karya bisa masuk, harus melalui tahap kurasi dan karya saya berhasil masuk. Pameran kain ini, pertama bagi saya, sebelumnya saya pernah pameran instalasi keramik, sketsa dan lainnya. Jadi saya bukan seniman yang fokus pada satu bidang,” ungkap perempuan yang sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Kesenian Walwikita (STKW) Surabaya tahun 2001 jurusan seni patung ini.
Adanya pameran ini, bertujuan agar masyarakat lebih mengetahui karyanya. Ia menyampaikan tak perlu harus laku atau tidak, yang terpenting baginya dirinya dapat melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
“Saya tidak pernah memikirkan untung atau rugi dari karya saya, saya hanya bisa kerja dan kerja. Masalah laku itu bonus, karena saya senang dan bahagia atas apa yang saya kerjakan. Keuntungan itu bukan hanya dari rupiah, namun kepuasaan hati,” tegas wanita 3 anak ini.
Ia menyebut, untuk satu batik lukis yang membutuhkan waktu satu hingga dua bulan tersebut berkisar 2,5 juta rupiah, sedang untuk kain eco print yang dikerjakan sekitar seminggu ini berkisar dari 150 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah tergantung ukuran kainnya.
Ke depan, Ruwaidah menyampaikan, jika akan membuat pameran kembali bersama teman-temanya yang rencana akan terselenggara di Jogja dengan menyuguhkan karya seni instalasi dari keramik.
“Ke depan akan ada rencana pameran di Jogja dengan teman, mau mengeluarkan instalasi lagi, keramik kalau tidak salah, tetapi belum berjalan,” tutup Ruwaidah. (jel/hdl)

