Jakarta (pilar.id) – Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa idealnya setiap negara perlu memiliki stok kantong darah sebanyak 2 persen dari total jumlah penduduknya.
Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia mencapai 277,75 juta jiwa pada tahun 2022, maka kebutuhan kantong darah di Indonesia seharusnya mencapai sekitar 5,56 juta kantong per tahun.
Sayangnya, data Palang Merah Indonesia (PMI) pada tanggal 14 Juni 2023 menunjukkan bahwa stok darah yang dimiliki oleh Unit Donor Darah (UDD) di seluruh Indonesia baru mencapai 77.438 kantong. Angka ini jauh di bawah estimasi kebutuhan ideal kantong darah menurut WHO untuk suatu negara.
Untuk mengatasi tantangan ini, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), perusahaan emiten yang fokus pada peralatan dan perlengkapan medis berteknologi tinggi, terus berkomitmen mendukung program pemerintah dan mendorong kemajuan sektor kesehatan di Indonesia.
IRRA berperan dalam meningkatkan ketersediaan kantong darah di Indonesia melalui kemitraan dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Selain itu, IRRA juga akan berpartisipasi dalam mendistribusikan kantong darah dalam negeri pada tahun 2024.
Sebelumnya, Itama Ranoraya dan PMI DKI Jakarta telah bekerja sama dalam kampanye Be The 1™ di MTH Square Jakarta. Be The 1™ adalah kampanye global untuk mendorong gerakan donor darah guna meningkatkan ketersediaan suplai darah dan plasma, termasuk memastikan ketersediaan darah ketika dibutuhkan oleh pasien.
“Penugasan kepada Unit Donor Darah mencakup jaminan ketersediaan, jaminan mutu, transparansi jumlah kesediaan golongan darah, dan kemudahan akses untuk mendapatkannya. Kemitraan kami dengan Itama Ranoraya, yang mencakup produk-produk seperti kantong darah, reagen, dan alat-alat pengolahan darah, sangat penting. Produk yang digunakan oleh PMI harus memenuhi spesifikasi dan kualifikasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Kami memilih bermitra dengan Itama Ranoraya karena kualitas produknya yang tak diragukan lagi, dan kehadiran pabrik kantong darah di Indonesia akan membantu memastikan ketersediaan kantong darah,” kata dr. Suhara Manullang, M.Kes, kepala UDD PMI Kota Tangerang Selatan.
Selain produksi dan penyediaan kantong darah, kemitraan antara Itama Ranoraya dan PMI juga melibatkan reagen skrining darah sejak tahun 2010 dan apheresis sejak 2016.
Reagen skrining darah digunakan untuk memeriksa penyakit seperti HIV, Hepatitis B dan C, serta sifilis pada darah.
Sementara itu, apheresis berfungsi memisahkan komponen darah seperti sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan plasma kovalesen yang dapat digunakan untuk donor trombosit darah. Produk-produk ini merupakan tambahan dalam portofolio produk Itama Ranoraya sejak tahun 2006.
“Pemenuhan kebutuhan kantong darah PMI adalah salah satu cara kami berkontribusi pada peningkatan kualitas sektor kesehatan. Dukungan ini adalah komitmen perusahaan yang akan kami pertahankan di masa mendatang. Melalui kemitraan yang terjalin, kami akan terus berupaya menjaga rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan cepat,” ujar Heru Firdausi Syarif, Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk. Heru juga meyakini bahwa produksi dan penyediaan kantong darah akan memperkuat infrastruktur kesehatan di Indonesia.
Hingga akhir tahun 2023, jumlah pelanggan kunci Itama Ranoraya mencapai 1.765 pelanggan di seluruh Indonesia, dengan 32 persen berasal dari sektor pemerintah daerah dan 68 persen dari sektor swasta.
Produk dan layanan Itama Ranoraya telah berhasil didistribusikan melalui 261 jaringan distribusi dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, menegaskan komitmen perusahaan untuk memberikan layanan distribusi alat kesehatan terbaik dan menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. (usm/hdl)










