Surabaya (pilar.id) – Sebagai sebuah negara agraris, Indonesia memiliki jumlah penduduk bermata pencaharian petani yang begitu besar. Sayang, kondisi tersebut tidak dibarengi dengan proses regenerasi petani yang optimal.
Melihat hal ini, Rafida Mumtaz, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga, menggagas inovasi yang menggabungkan teknologi dengan pertanian dengan tujuan mendorong regenerasi petani di Indonesia.
Lewat gagasan ini ia berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi esai nasional Faperta Expo 2022 Universitas Riau akhir September 2022 lalu.
Rafida mengaku, gagasan yang diangkat dalam perlombaan tersebut. Menurutnya, wacana regenerasi petani hingga kini masih menjadi hal yang penting lantaran minimnya keinginan para generasi muda untuk menjadi petani.
Ia juga menekankan pada pentingnya menghilangkan stigma negatif tentang petani di masyarakat.
“Setelah aku menelusuri berbagai sumber, ternyata petani adalah profesi yang tidak lagi diminati oleh generasi muda,” kata Rafida.
Salah satu penyebabnya, lanjut dia, adalah karena stigma-stigma negatif yang menyebutkan bahwa profesi petani itu profesi 3D, dirty, dangerous, dan difficult.
“Jika ini tidak diatasi, maka regenerasi petani di Indonesia akan semakin mengkhawatirkan. Kalau sudah begitu, bagaimana mencapai SDGs pangan 2045 nanti?” tambahnya.
Mahasiswa alumni PIMNAS 34 ini juga menyampaikan alasannya menggabungkan bidang pertanian dengan teknologi.
Katanya, generasi muda saat ini akan lebih mudah didekati dan diedukasi melalui teknologi dan digitalisasi. Oleh karena itu, ia mencoba mengaktualisasikan hal tersebut melalui gagasannya yang berupa aplikasi pertanian dengan fitur-fitur menarik di dalamnya.
“Generasi muda zaman sekarang akrab dengan teknologi dan digitalisasi. Kalau didekati dengan metode teknologi atau digitalisasi akan lebih tertarik. Sehingga, saya mencoba membuat aplikasi yang bisa mengubah stigma negatif pada petani dengan beberapa fitur yang dapat mengubah stigma tersebut,” ungkapnya.
Aplikasi itu menyediakan fitur konsultasi, fitur identifikasi masalah pertanian yang terintegrasi google lens, fitur cuaca untuk memprediksi kondisi cuaca, serta fitur penghitungan biaya produksi dan laba.
Harapannya bisa mempermudah langkah para calon petani muda untuk terjun di bidang pertanian.
Meraih prestasi tersebut tidak membuat Rafida berhenti begitu saja. Ke depan, ia berharap agar gagasannya dapat direalisasikan melalui kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak.
“Harapan sih ya semoga gagasan ini bisa benar-benar terwujud dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Intinya ke depan pengen menggandeng berbagai pihak supaya bisa sampai ke temen-temen komunitas petani dan anak muda,” tutupnya. (feb/hdl)










