Surabaya (pilar.id) – Generasi Z (Gen Z), yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, merupakan kelompok demografis yang signifikan dengan pengaruh yang semakin meningkat. Dr. Jokhanan Kristiyono, pakar komunikasi politik dari Stikosa AWS, menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang tepat untuk melibatkan mereka dalam politik.
“Pertama, kita perlu memahami karakteristik, nilai, dan kebiasaan Gen Z. Mereka adalah digital native, terbiasa dengan teknologi dan internet, kritis, ingin terlibat, dan peduli terhadap isu-isu sosial,” jelas Jokhanan, yang juga Ketua Stikosa AWS.
Dengan memahami Gen Z, partai politik dapat menganalisis platform digital yang sering digunakan oleh mereka seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Twitter. Konten yang dibuat harus menarik dan informatif, dalam format yang sesuai seperti video pendek, meme, dan infografis.
“Tim komunikasi politik seringkali lupa melibatkan Gen Z dalam kampanye, menyebabkan konten yang ada tidak memenuhi selera mereka. Bahasa yang digunakan harus lugas dan sesuai dengan gaya komunikasi mereka,” tambahnya.
Jokhanan juga menekankan pentingnya keterlibatan Gen Z dalam pengambilan keputusan politik melalui forum diskusi, survei online, dan polling. “Tunjukkan bahwa mereka adalah bagian penting dari proses demokrasi,” tegasnya.
Pelibatan Gen Z bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek dalam politik. Mengangkat isu-isu penting bagi mereka seperti perubahan iklim, keadilan sosial, dan kesehatan mental, serta melibatkan influencer Gen Z yang kredibel, dapat membantu menyebarkan informasi lebih luas.
“Dalam strategi komunikasi, kita harus menciptakan pengalaman yang interaktif menggunakan gamifikasi, augmented reality, dan virtual reality untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan mereka,” ujar penulis buku “Konvergensi Media dan Komunikasi Grafis” ini.
Konsistensi dalam Melibatkan Gen Z
Kerjasama dengan organisasi dan komunitas Gen Z yang sudah ada dapat membantu menjangkau mereka lebih efektif. “Membangun hubungan dengan Gen Z membutuhkan waktu dan usaha. Konsistenlah dalam komunikasi dan tunjukkan komitmen jangka panjang,” kata Jokhanan.
Ia menambahkan, Gen Z harus dilibatkan bukan hanya sebagai penyedia suara, tetapi juga sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan. “Ketika bicara politisi, yang kini atau nanti menjadi pejabat publik, mereka harus paham dan mengerti publiknya. Kuncinya ada di situ,” tutup Jokhanan sambil tersenyum.
Dengan strategi yang tepat, partisipasi Gen Z dalam Pilkada 2024 dapat meningkat, memberikan dampak positif pada proses demokrasi di Indonesia. (usm/hdl)









