Jakarta (pilar.id) – Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan, probabilitas atau kemungkinan Presiden Jokowi menghadirkan gencatan senjata antara Ukraina-Rusia dan mengakhiri tragedi kemanusiaan sangan besar.
Paling tidak, kata dia, ada lima alasan untuk pernyataannya itu. Pertama, baik Rusia dan Ukraina telah lelah berperang.
“Rusia yang menargetkan operasi militer khusus berlangsung cepat namun hingga sekarang belum berakhir. Demikian pula Ukraina, telah banyak menderita akibat serangan ini yang memunculkan tragedi kemanusiaan,” kata Hikmahanto, Rabu (29/6/2022).
Kedua, lanjutnya, legitimasi dari kedua pemimpin di masyarakat masing-masing semakin tergerus. Legitimasi yang kuat bagi kedua pemimpin dari masyarakat masing-masing di awal serangan mulai memudar mengingat perang tidak berpihak pada rakyat.
Ketiga, saat ini Rusia dan Ukraina sedang mencari jalan untuk mengakhiri perang namun secara bermartabat. Mereka tidak ingin kehilangan muka. Bila Rusia menghentikan serangan secara sepihak ini akan berakibat pada hilangnya muka Presiden Putin dan Rusia.
“Demikian pula bila Presiden Zalensky menyerah maka Zalensky akan kehilangan muka di mata masyarakatnya,” kata dia.
Keempat, hingga saat ini tidak ada negara yang berinisiatif untuk mengupayakan gencatan senjata. Turki dan Israel pernah mengupayakan namun gagal karena saat itu kedua negara masih bersemangat untuk berkonflik dengan menggunakan senjata.
Terakhir, bila terjadi gencatan senjata maka harus dimulai dari Rusia. Namun apakah Rusia berkeinginan untuk menghentikan serangan, kata Hikmahanto, ada indikasi bahwa Rusia hendak menghentikan ini.
Hal tersebut karena Rusia bersedia menerima kunjungan Presiden Jokowi meski Rusia tahu Indonesia adalah ko-sponsor dari sebuah Resolusi Majelis Umum PBB yang disponsori oleh Amerika Serikat yang mengutuk serangan Rusia sebagai suatu agresi.
“Bila Rusia tidak memiliki keinginan untuk menghentikan perang, tentu Rusia akan menolak kehadiran Presiden Jokowi yang menganggap Indonesia telah berpihak pada AS dan sekutunya,” ujar Rektor Universitas Jenderal A Yani tersebut. (her/din)


