Jakarta (pilar.id) – Kasus positif covid-19 harian di Indonesia sudah mencapai angka 5.000-an. Dari jumlah kasus di Tanah Air itu, mayoritas pasien terpapar covid-19 tidak mengalami gejala apapun. Hal itu bisa berpotensi meningkatkan penularan di masyarakat.
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, banyaknya pasien covid-19 tak bergejala di karenakan modal imunitas atau vaksinasi.
“Banyak infeksi yang terjadi bahkan bisa lebih besar dari sebelumnya. Tapi kebanyakan tanpa bergejala, karena modal imunitas tadi,” kata Dicky kepada Pilar.id, Jumat (22/7/2022).
Kendati kasus virus corona di Indonesia mengalami tren peningkatan, namun potensi untuk membebani fasilitas kesehatan masih kecil. Begitupun tingkat kematian, angkanya juga kecil.
Menurut dia, secara umum dunia ini mengarah kepada situasi perkembangan atau progres. Namun harus diingat, karena proporsi dari kelompok rawan cukup besar tetap berpotensi meningkatkan kasus kematian dan kesakitan.
“Tapi tetak kota-kota besar bisa menjaring kasus-kasus infeksi. Tapi tingkat kematian di daerah ini yang harus kita amati,” tegasnya.
Kasus covid-19 di Indonesia didominasi oleh varian BA.4 dan BA.5. Selain kedua Subvarian tersebut, kini muncul lagi subvarian Omicron baru yaitu BA.2.75 atau disebut Centaurus. Subvarian BA.2.75 diprediksi memiliki sifat yang sangat menular dan berpotensi menjadi subvarian paling dominan di dunia tahun ini.
Sementara itu, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, adanya peningkatan kasus kematian global akibat covid-19 walaupun terlihat tidak begitu cepat lajunya.
Ia memprediksi peningkatan kasus yang lebih banyak bisa berpeluang meningkatkan angka kematian dan hospitalisasi pada beberapa minggu ke depan.
“Kematian juga meningkat, tetapi untuk saat ini, tidak secepat kasus. Namun, lebih banyak kasus berarti kita dapat memperkirakan lebih banyak rawat inap dan kematian dalam beberapa minggu mendatang,” ujarnya. (her/din)

