Jakarta (pilar.id) – Kondisi ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Potensi resesi di sejumlah negara kian nyata, termasuk bagi Indonesia. Bila Indonesia resesi, apa sih yang akan terjadi?
Peneliti senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, salah satu dampak dari resesi adalah turunnya permintaan terhadap beragam produk barang dan jasa. Dengan turunnya permintaan ini, menurut Yusuf, akan memberikan dua dampak kepada Indonesia.
Pertama, dampak perdagangan internasional dari dan menuju ke Indonesia, terutama dengan negara-negara mitra dagang seperti China, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan lain-lain. Karena negara-negara ini merupakan negara-negara yang diproyeksikan akan terkena dampak dari resesi ini.
“Jika Indonesia resesi, tentu perhatian perlu diarahkan ke China dan Amerika Serikat. Karena kedua negara ini adalah mitra dagang utama Indonesia, sehingga perlambatan permintaan dari kedua negara ini akan memengaruhi kinerja dagang dari Indonesia itu sendiri,” kata Yusuf, Senin (25/7/2022).
Kedua, hal lain yang juga berdampak dari adanya resesi adalah potensi melambatnya harga komoditas. Tentu di satu sisi, ini merupakan semacam berkah terutama untuk inflasi dunia. Karena, penurunan harga komoditas akan berdampak terhadap penurunan inflasi dunia.
Namun demikian, di sisi yang lain, penurunan harga komoditas akan berimbas terhadap Indonesia yang menggantungkan perdagangannya, terutama perdagangan ekspor dari komoditas-komoditas tertentu. Dengan demikian, hal ini juga akan berdampak terhadap kinerja perdagangan dalam negeri.
“Dan di saat yang bersamaan penurunan harga komoditas juga akan ikut memengaruhi penerimaan negara, sehingga anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama dari sisi penerimaan berpotensi terkoreksi di level tertentu,” kata dia.
Menurutnya, fakta bahwa banyaknya menteri yang berhubungan dengan perekonomian berasal dari parpol tidak terbantahkan. Namun demikian, dalam situasi seperti ini profesionalitas dari para menteri justru menjadi tantangan. Para menteri di bidang ekonomi wajib mengedepankan kepentingan publik dinyengah potensi resesi dunia.
“Saya kira birahi politik menteri yang merangkap bagian parpol bisa dikesampingkan terlebih dahulu untuk fokus, terutama dalam menghadapi resesi,” tegasnya. (her/din)

