Surabaya (pilar.id) – Kegiatan bertajuk Kopi Tutur Rasa X Tutur Mata yang digelar di Midtown Residence Surabaya menghadirkan pengalaman kreatif antara fotografer disabilitas dan barista Tuli. Agenda ini menjadi wadah berbagi karya sekaligus ruang pemberdayaan bagi kelompok disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka tanpa batas.
Komunitas Tutur Mata, yang terdiri dari penyandang disabilitas Tuli dan down syndrome, tampil percaya diri sebagai fotografer. Mereka di antaranya Kiking, Pina, Septian, Omay, Jacky, Dewa, dan Kori, didampingi mentor fotografi, Leo, yang telah membina perkembangan kemampuan mereka sejak awal. Pendampingan tersebut membuat para peserta mampu menghasilkan karya dengan karakter, gaya, dan perspektif masing-masing.
Interaksi hangat terlihat ketika mereka berkomunikasi dengan barista Tuli dari program Kopi Tutur Rasa, yaitu Devi dan Della, yang merupakan bagian dari jaringan Midtown Hotels Indonesia. Program ini berfokus pada pemberdayaan disabilitas dalam industri perhotelan, termasuk pelatihan barista bagi teman Tuli.
Di area bar All Day Dining, Devi dan Della menjadi objek pemotretan. Septian tampak paling ekspresif dalam menentukan angle, termasuk mengambil posisi rendah hingga memotret dari celah perlengkapan pencahayaan. Hasil fotonya memperlihatkan framing yang unik dan berbeda dari rekan-rekannya.
Kiking juga menunjukkan kreativitasnya dengan memberikan arahan kepada para barista sesuai konsep yang ingin ia bangun, mulai dari momen uap mesin kopi hingga gaya memegang cangkir. Karya yang dihasilkan mendapatkan apresiasi dari Kus Andi, Public Relations Corporate Midtown Hotels Indonesia, yang menunjukkan kekaguman atas kemampuan Kiking.
Suasana semakin hangat ketika para fotografer disabilitas memperlihatkan hasil jepretan mereka kepada Devi dan Della. Keduanya membalas dengan gestur penghargaan, menandakan kekaguman terhadap kreativitas yang diperlihatkan. Meski baru pertama kali bertemu, interaksi mereka berlangsung akrab dan penuh tawa.
Public Relations Midtown Residence Surabaya, Gege, menyampaikan bahwa potensi yang ditunjukkan komunitas Tutur Mata layak mendapatkan dukungan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen membuka ruang kreativitas bagi penyandang disabilitas, termasuk melalui kolaborasi dengan program Kopi Tutur Rasa.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan karya fotografi, tetapi juga menggambarkan bagaimana ruang kolaborasi dapat menjadi jembatan kesetaraan bagi kelompok disabilitas dalam dunia industri kreatif. (usm)










