Jakarta (pilar.id) – Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada 21 Juli 2022, harga minyak goreng (migor) curah di beberapa daerah masih jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Sebut saja Lampung dan Bengkulu masing-masing sebesar Rp16.900 dan Rp17.500 per Kg.
Sementara harga migor curah di Nusa Tenggara Barat (NTB), Gorontalo, dan Kalimantan Utara adalah masing-masing sebesar Rp17.100, Rp18.000, Rp18.750 per Kg. Sedangkan harga migor di Maluku Utara dan Papua masing-masing sebesar Rp24.250 dan Rp25.200 per Kg.
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah agar segera membanjiri Lampung dan Bengkulu dengan migor curah rakyat (MGCR). Pasalnya hanya dua provinsi di pulau Sumatera ini yang harga migor curahnya masih jauh dari HET. Padahal, secara teritorial, dua provinsi ini lebih mudah dijangkau ketimbang wilayah timur Indonesia.
Sementara itu untuk wilayah timur dengan harga migor curah jauh di atas HET seperti NTB, Gorontalo, Maluku, Papua, dan Papua Barat menjadi penting untuk segera didistribusikan migor kemasan sederhana MinyaKita. “Di satu sisi harga CPO (minyak sawit mentah) dan TBS (tandan buah segar) terus melorot, namun harga migor di wilayah tersebut tidak turun-turun. Tentu ini ada yang salah. Pemerintah harus intervensi untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Mulyanto, di Jakarta, Sabtu (23/7/2022).
Selain itu, lanjut Mulyanto, pencabutan sementara potongan ekspor (PE) sawit masih belum efektif mendongkrak harga TBS di tingkat petani. Dengan pencabutan PE tersebut, semestinya harga TBS akan naik sebesar Rp600 per Kg. Namun sampai hari dilaporkan harga TBS hanya naik sebesar Rp50-125 per Kg.
“Jangan sampai pencabutan PE ini hanya dinikmati oleh para eksporter CPO dan tidak merembes kepada petani sawit. Kalau itu yang terjadi, maka kebijakan ini salah sasaran,” tegas politikus PKS ini. (Akh/din)


