Jakarta (pilar.id) – Dahulu kala, gamelan tidak hanya sekadar alat musik. Bahkan, gamelan dianggap sebagai pusaka. Maka tak heran, proses pembuatannya pun tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, hal-hal yang berbau mistis tersebut mulai tidak terdengar lagi. Semua proses pembuatan alat-alat berbahan besi atau perunggu dilakukan dengan menggunakan mesin yang canggih.
“Mungkin kalau dulu, apa yang dikatakan itu benar. Jadi banyak gamelan itu dianggap sebagai benda-benda pusaka,” ujar pemilik pabrik gamelan Gong Factory Krisna Hidayat kepada Pilar.id, di Bogor, Jawa Barat, Senin (23/5/2022).
Nah, bila Anda mengunjungi Kota Bogor, Jawa Barat, sempatkanlah untuk mengunjungi Gong Factory. Pabrik pembuat alat musik berbahan perunggu ini masih menggunakan cara-cara tradisional.

“Sekarang ini, karena sudah modern, jadi sedikit bergeser. Di mana, unsur magisnya itu sudah berkurang, ada yang tidak dipakai lagi,” kata Krisna.
Lokasi Gong Factory tidak jauh dari Istana Bogor, yang merupakan kediaman Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini. Pabrik gamelan ini diperkirakan sudah berusia 2 abad.
“Mulanya berdirinya pabrik gong ini cukup lama ya, diperkirakan sudah berumur sekitar 200 tahun,” kata Krisna.
Krisna sendiri merupakan generasi ketujuh. Ia harus berjuang keras mempertahankan pabrik gamelan berbahan perunggu yang hanya ada satu-satunya di Jawa Barat ini.
“Dari awal hingga sekarang pabrik ini turun temurun,” kata Krisna.
Di tengah pandemi Covid-19, Krisna mengaku mengalami kendala yang sangat besar. Bisa dibilang, selama pandemi berlangsung pabrik gamelan yang diberi nama Gong Factory ini mati suri.
“Bisa dibilang mati suri, karena harga baku naiknya sangat tinggi, sekitar 50 persen,” kata dia.

Sebelum pandemi, Gong Factory mampu membuat 2 set gamelan. Sementara, pada saat pandemi diakui Krisna sangat menurun drastis.
“Lalu kita juga sempat terbatas dalam beraktivitas, itu menjadi kendala pada saat pandemi,” kata dia.
Krisna bersyukur, kegiatan pabrik mulai berangsur membaik mulai 2022. Meskipun, belum pulih 100 persen normal seperti sebelum pandemi. “Tapi kita punya harapan besar di 2023 kembali normal,” harap Krisna.
Gong Factory memproduksi gamelan dan gong. Untuk gamelan biasanya pembeli membelinya satu set, sedangkan untuk gong dijual satuan. “Jadi kita memproduksi semua alat-alat tradisional yang terbuat dari bahan perunggu,” sambung Krisna.
Krisna menceritakan, proses pembuatan gamelan, biasanya menggunakan timah putih dengan kadar 99,9 persen. Lalu ada tembaga merah dengan kualitas super.
Kedua bahan tersebut dicampurkan dengan perbandingan 3:1. Tiga kilogram tembaga merah, dicampur dengan 1 kilogram timah putih hingga menjadi bahan perunggu. “Itu dasarnya,” tutur Krisna.

Untuk metode pembuatannya, Gong Factory masih mempertahankan cara tradisional. Semua alat musik tersebut hanya ditempa atau tidak menggunakan mesin las dan cetak. “Kita full tempa, mempertahankan keasliannya,” sambung dia.
Pelanggan Gong Factory tentu saja para seniman yang berkecimpung dalam seni pertunjukan musik dan wayang hingga pejabat negara. Mereka antara lain, Mpok Nory, Diki Chandra, Asep Sunandar, Haji Bokir, Malih. Termasuk Menteri Tenaga Kerja periode 1983–1988 Sudomo, dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Sebelum pandemi, Gong Factory juga kerap mengekspor gamelan ke berbagai negara, seperti Amerika Serikat, hingga Eropa. Namun, permintaan dari luar negeri juga mengalami penurunan seiring merebaknya pandemi di berbagai belahan dunia.
“Tapi sejak pandemi off untuk luar negeri,” kata dia.
Untuk harga gamelan sangat bervariasi tergantung pada permintaan pelanggan yang berasal dari berbagai daerah. Masing-masing daerah mempunyai pakem tersendiri dalam menentukan spesifikasi gamelan yang mereka butuhkan.
Sebagai contoh, 1 set gamelan Sunda, biasanya harganya sekira Rp80 juta, sedangkan untuk 1 set gamelan gambang kromong harganya bisa sampai Rp100 juta.
“Yang paling mahal itu gamelan Jawa bisa sampai Rp250 juta per set-nya,” kata dia.
Untuk gong, harganya juga sangat bervariatif tergangung pada ukuran kecil atau besar. Ukuran gong menentukan bahan baku yang dibutuhkan. Harganya biasanya berkisar dari Rp1,5 juta hingga Rp19 juta.
“Rp19 juta itu yang paling besar, untuk ukuran sekitar 80cm,” kata Krisna.
Krisna berharap, pemerintah ikut membantu mempertahankan warisan budaya ini. Terutama, pemerintah diharapkan dapat mengendalikan bahan baku yang bisa dibilang tertinggi dalam sejarah pergamelan.
“Sekarang mengingak Rp730 ribu per kilo, itu sangat-sangat memberatkan,” kata Krisna.
Selain itu, dari sisi penjualan pemerintah diharapkan bisa membantu promosi atau memberikan kemudahan dalam pengiriman gamelan. (ach/fat)





