Jakarta (pilar.id) – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen. BI beralasan, keputusan tersebut diambil untuk menurunkan inflasi dan tekanan terhadap nilai tukar.
“Sehingga inflasi inti tetap terjaga dalam kisaran 3,0 plus minus 1 persen,” kata Gubernur BI Gubernur BI Perry Warjiyo, di Jakarta, Kamis (22/12/2022).
Perry menjelaskan, inflasi IHK per November 2022 tercatat lebih rendah dari prakiraan dan inflasi bulan sebelumnya, meski masih tinggi sebesar 5,42 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dan di atas sasaran 3,0±1 persen. Sedangkan inflasi kelompok volatile food turun menjadi 5,70 persen (yoy) baik secara nasional maupun di sebagian besar wilayah Indonesia.
Inflasi administered prices juga tercatat turun menjadi sebesar 13,01 persen (yoy) sejalan dengan menurunnya tarif angkutan udara dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Sementara itu, inflasi inti kembali menurun menjadi 3,30 persen (yoy), dipengaruhi oleh dampak lanjutan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dan tekanan inflasi dari sisi permintaan yang belum kuat.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat respons kebijakan guna memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi,” kata Perry.
Di sisi lain, kebijakan stabilisasi nilai tukar juga diperlukan untuk memitigasi dampak rambatan kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Perry menjelaskan, tekanan nilai tukar rupiah pada November-Desember 2022 berkurang karena dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing yang terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
“Perkembangan nilai tukar Rupiah tersebut cukup positif di tengah dolar AS yang masih kuat dan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi,” kata dia.
Adapun indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat masih tinggi di level 104,16 pada 21 Desember 2022. Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah sampai dengan 21 Desember 2022, terdepresiasi 8,56 persen (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.
“Depresiasi nilai tukar rupiah tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara lain di kawasan, seperti Tiongkok 8,96 persen (ytd) dan India 10,24 persen (ytd),” kata Perry.
Dengan demikian, BI telah menaikan suku bunga acuan sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2022. BI pertama kali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, dari 3,5 persen menjadi 3,75 persen pada Agustus 2022. Kemudian berlanjut pada September, Oktober, dan November masing-masing naik 50 bps. Terakhir, menjelang akhir tahun 2022, BI kembali mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen. (ach/hdl)










