Surabaya (pilar.id) – Pada awal 2024, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah melakukan perbaikan pada sejumlah taman, termasuk taman pasif, sebagai bagian dari upaya untuk mempercantik penampilan kota dan sebagai penangkal polusi udara.
Myrna Augusta Aditya Dewi, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, menjelaskan bahwa perbaikan taman pasif dilakukan karena tanaman yang sudah tua dan rusak, serta kondisi taman yang terlalu rimbun.
Myrna menambahkan, saat Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melakukan inspeksi mendadak, taman pasif di sisi timur Kebun Binatang Surabaya (KBS) dipercantik dan ditata ulang karena tanaman yang terlalu rimbun sehingga tidak bisa berkembang dengan baik. “Kita lakukan perantingan dahulu agar tanaman dapat berkembang dengan optimal,” kata Myrna.
Taman pasif di sisi timur KBS telah diperbaiki sebagian, dan perbaikan akan dilanjutkan ke bagian sisi bawah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Selain itu, DLH Surabaya juga memperbaiki taman pasif di sepanjang jalur hijau Jalan Diponegoro, yang terdiri dari delapan pulau jalan yang digunakan sebagai taman pasif.
DLH Surabaya juga sedang melakukan perbaikan taman pasif di pulau-pulau jalan tersebut secara bertahap. “Yang kita kerjakan sekarang ada tiga pulau, satu sudah selesai, dan yang dua masih proses berjalan,” ujar Myrna.
Selain itu, DLH Surabaya juga sedang mengerjakan perbaikan taman pasif di Jalan Banyu Urip hingga ke arah barat Jalan Raya Sememi, serta dari Jalan Tandes hingga ke arah Jalan Margomulyo. Di sepanjang jalan tersebut terdapat sekitar 25 pulau jalan yang terdapat taman pasif.
Perbaikan taman pasif dilakukan dengan mengubah desain agar lebih baik dan indah, serta menggunakan tanaman yang tahan polusi dan menambahkan tanaman berwarna. “Selain fungsi ekologinya kena, keindahannya juga dapat,” pungkas Myrna. (rio/hdl)










