Tarakan (pilar.id) – PT Pertamina EP (PEP) Tarakan Field telah berhasil menciptakan inovasi pengolahan sampah plastik untuk mendukung budi daya rumput laut ramah lingkungan melalui Program Aliansi Kerja Bebas Sampah (Akar Basah) di Pantai Mamolo, Kelurahan Tanjung Harapan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Program ini merupakan bentuk dukungan PEP Tarakan Field terhadap kampanye Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, yakni Beat Plastic Polution.
Cahyo Tri Mulyanto, Tarakan Field Manager, menjelaskan bahwa Program Akar Basah, yang dimulai pada tahun 2021, merupakan implementasi kebijakan perusahaan terkait operasi migas ramah lingkungan. Program ini juga merupakan tanggapan terhadap permasalahan lingkungan, khususnya sampah plastik, serta tantangan pembangunan di Kalimantan Utara.
“Sebagai produsen rumput laut terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 3000 ton per bulan, petani rumput laut di Kabupaten Nunukan selama ini menggunakan 1,2 ton botol plastik per hari. Botol plastik ini, yang tidak bertahan lama, akhirnya menjadi sampah plastik yang sangat banyak,” jelas Cahyo.
Dalam program ini, sampah plastik jenis HDPE diolah menggunakan mesin molding menjadi pelampung budidaya rumput laut yang ramah lingkungan. Pelampung ini menggantikan botol plastik bekas yang selama ini digunakan oleh petani. Cahyo menambahkan bahwa ini merupakan inovasi pengolahan sampah plastik pertama di Kalimantan Utara.
Ketua asosiasi petani rumput laut Kabupaten Nunukan, Habir, menjelaskan bahwa pelampung yang dihasilkan oleh Program Akar Basah memiliki masa pakai hingga 8 bulan, menghasilkan efisiensi biaya, waktu, dan tenaga bagi petani rumput laut.
“Program ini telah membantu kelompok dengan pendapatan rata-rata hingga Rp. 175.000.000,- per tahun. Selain itu, penggunaan pelampung hasil inovasi Program Akar Basah telah berhasil mengurangi sampah plastik hingga 3,3 ton yang digunakan sebagai bahan baku pelampung,” imbuh Habir.
Dony Indrawan, Manager Communication Relation & CID PHI, menyampaikan komitmen perusahaan untuk terus berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjalankan program-program Corporate Social Responsibility (CSR) yang inovatif dan mampu menjawab permasalahan, sehingga dapat dijalankan secara berkelanjutan.
“Dalam Program Akar Basah, kami berkolaborasi dengan petani dan mitra binaan kami. Kami mengajak petani rumput laut untuk meningkatkan kesadaran dalam mengelola sampah plastik dan meningkatkan keterampilan masyarakat di wilayah tersebut dalam mengelola sampah,” ungkap Dony.
Dony menambahkan bahwa hasil kajian dampak menunjukkan bahwa Program Akar Basah telah sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama pada tujuan 12 tentang produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, serta tujuan 14 tentang ekosistem laut.
“Program ini juga menjadi bagian integral dari upaya perusahaan untuk menjalankan operasi migas ramah lingkungan dengan melibatkan masyarakat dalam mendukung mitigasi perubahan iklim, pelestarian lingkungan, dan pengurangan emisi,” pungkas Dony. (usm/hdl)










