Jakarta (pilar.id) – CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkap bahwa cara orang menggunakan ChatGPT sangat dipengaruhi oleh usia mereka. Mulai dari pengganti mesin pencari hingga peran sebagai penasihat pribadi, interaksi dengan AI ini terus berevolusi.
Dalam acara AI Ascent yang digelar oleh Sequoia Capital, Altman menyebut bahwa meskipun ini adalah penyederhanaan besar-besaran, tren nyata mulai muncul dalam pola penggunaan ChatGPT.
Ia menyebut, “Orang tua biasanya memakai ChatGPT sebagai pengganti Google. Sementara itu, mereka yang berusia 20 hingga 30-an memakainya seperti penasihat hidup.”
Generasi Muda: ChatGPT Jadi Sistem Operasi Kehidupan
Altman menjelaskan bahwa mahasiswa dan anak muda saat ini menggunakan ChatGPT secara jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya mengetik pertanyaan sederhana, melainkan:
- Menghubungkan ChatGPT ke banyak file pribadi
- Menghafal prompt kompleks atau menggunakan dokumen khusus untuk menyalin dan menempel instruksi
- Bahkan, menggunakan ChatGPT sebagai bagian dari pengambilan keputusan penting dalam hidup
“Mereka tidak membuat keputusan besar tanpa bertanya dulu ke ChatGPT,” kata Altman. “AI ini tahu konteks penuh dari kehidupan pengguna—siapa saja orang-orang penting di hidup mereka, dan apa yang telah mereka diskusikan,” imbuhnya.
Penggunaan ini juga diperkuat oleh kemampuan memori ChatGPT, yang memungkinkan AI ini mengingat percakapan sebelumnya, kebiasaan pengguna, hingga preferensi tertentu.
Sebagai contoh, pengguna dapat meminta saran program olahraga berdasarkan riwayat latihan mereka, termasuk jenis kelas yang biasa mereka ikuti di Peloton.
Dari Asisten Pencari Informasi hingga Terapi AI
Penggunaan ChatGPT kini meluas ke bidang-bidang yang sebelumnya tak terbayangkan, seperti diskusi pribadi dan bahkan terapi.
Banyak orang menggunakan AI ini untuk berbicara tentang kehidupan, hubungan, hingga keputusan besar.
Altman mengaku terkesima melihat perubahan ini. “ChatGPT sekarang digunakan sebagai sistem dukungan harian,” ujarnya.
Sam Altman menyoroti potensi besar AI dalam mendampingi kehidupan sehari-hari manusia.
Perbedaan generasi dalam penggunaan ChatGPT menunjukkan bahwa teknologi ini bukan sekadar alat bantu, tapi mulai berperan sebagai co-pilot dalam pengambilan keputusan personal, profesional, bahkan emosional. (hdl)










