Medan (pilar.id) – Dirilis pada 18 Agustus 2006 oleh New Line Cinema, Snakes on a Plane menjadi salah satu film paling unik dalam sejarah perfilman Hollywood. Disutradarai oleh David R. Ellis dan dibintangi Samuel L. Jackson, film bergenre aksi-thriller ini mengisahkan upaya pembunuhan saksi pengadilan melalui ratusan ular berbisa yang dilepaskan di dalam pesawat komersial.
Sebelum penayangannya, film ini telah lebih dulu menjadi fenomena internet. Judul yang nyentrik, premis tak biasa, serta keterlibatan Samuel L. Jackson menciptakan antusiasme besar di kalangan warganet.
Bahkan, rumah produksi melakukan pengambilan gambar ulang selama lima hari untuk menambahkan adegan baru berdasarkan masukan komunitas online.
Tak hanya di forum daring, Snakes on a Plane juga menjadi bahan parodi di televisi, film, hingga video buatan penggemar. Media massa menyebut film ini sebagai karya “crowdsourced” pertama, di mana audiens berperan besar dalam membentuk ekspektasi terhadap isi film.
Namun, hype besar di dunia maya tidak sejalan dengan pencapaian komersialnya. Film ini hanya meraup 15,25 juta dolar AS di akhir pekan pembukaannya, jauh dari prediksi analis yang memperkirakan 20-30 juta dolar AS.
Total pendapatan globalnya berhenti di angka 62 juta dolar AS, membuatnya dicap sebagai “box office disappointment”.
Meski begitu, Snakes on a Plane tetap mendapat tempat khusus di hati penggemar. Film ini dianggap sebagai simbol era awal fenomena viral internet yang mampu memengaruhi industri hiburan. Kritikus pun memberikan ulasan campuran: sebagian menyebutnya sebagai thriller konyol namun menghibur, sementara yang lain menilai film ini gagal memanfaatkan potensi besarnya.
Dibintangi Samuel L. Jackson sebagai agen FBI Neville Flynn, film ini juga diperkuat oleh Julianna Margulies, Nathan Phillips, hingga Elsa Pataky. Dengan penggunaan lebih dari 450 ular asli dan campuran CGI, film ini berusaha menghadirkan ketegangan penuh aksi yang kini dikenang sebagai bagian dari budaya pop.
Hingga kini, Snakes on a Plane tetap disebut-sebut sebagai contoh nyata bagaimana buzz internet tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan box office. Namun, perannya dalam membuka babak baru pemasaran film berbasis komunitas digital menjadikannya salah satu karya paling ikonik di era modern. (ret/hdl)










