Jakarta (pilar.id) – Di tengah dinamika ekonomi, industri farmasi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Meskipun mengalami dampak dari pandemi pada tahun 2020 yang mengakibatkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB), pertumbuhan sektor ini kembali menggeliat dan mencapai angka positif setelah masa pasca Covid-19.
Dalam pandangan analis investasi Salvian Fernando dari BNI Life Insurance, Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, ditunjukkan oleh tingkat inflasi Juli yang mencapai 3,08 persen.
Data dari Bloomberg juga menunjukkan tingkat probabilitas rendah untuk resesi di Indonesia, yakni hanya 2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.
Salvian Fernando menyatakan, “Inflasi kita tetap terkendali sesuai target pemerintah di kisaran 2-4 persen. Di sektor kesehatan, belanja anggaran pemerintah melalui program JKN KIS terus meningkat dengan lebih dari 90 persen penduduk Indonesia memiliki Kartu Indonesia Sehat.”
Dalam sebuah webinar yang membahas Transformasi Keberlanjutan PT Phapros Tbk dalam Meningkatkan Efisiensi dan Daya Saing Pasca Pandemi, fasilitator dari CSA Institute mengungkapkan bahwa pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 205 triliun untuk sektor kesehatan, menandakan komitmen untuk meningkatkan program-program kesehatan. “Kesehatan telah menjadi prioritas dalam APBN untuk ditingkatkan. Pemerintah juga berencana meningkatkan infrastruktur kesehatan di masa mendatang.”
Selain pengaruh dari pemerintah, perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses layanan dan produk kesehatan juga turut berperan dalam pertumbuhan sektor farmasi. Berdasarkan data Ciptadana Sekuritas, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit meningkat sejak tahun 2020. “Pengeluaran untuk pencegahan mencakup vitamin, kebugaran, dan perawatan kesehatan lainnya. Terutama dengan persentase penduduk yang mengalami masalah kesehatan mencapai 29,94 persen pada tahun 2022, ini menjadi katalis bagi perusahaan farmasi seperti Phapros.”
Dalam hal pendapatan fundamental, Salvian menjelaskan bahwa saham Phapros (PEHA) telah menunjukkan stabilitas sejak tahun 2015. Meskipun mengalami dampak dari pandemi Covid-19 pada 2020, perusahaan ini pulih dengan baik. “Pertumbuhan pendapatan pada tahun 2022 mencapai 11 persen, hasil yang baik jika dibandingkan dengan kompetitor. Tingkat keuntungan kotor (gross profit) juga mencapai 12 persen.”
Salvian juga menyoroti pertumbuhan yang signifikan dalam net income PEHA. “Perusahaan secara konsisten juga membagi dividen, dengan tingkat pembagian berkisar antara 40 hingga 70 persen. Ini merupakan nilai tambah bagi Phapros.”
Sebagai anggota BUMN Farmasi, Phapros diakui telah melaksanakan mandat pemerintah dengan memprioritaskan pemasok lokal dibandingkan dengan impor dari luar negeri. “Ada 532 pemasok lokal, sementara yang internasional hanya 18. Pangsa pasar Phapros juga mengalami peningkatan sebesar 0,9 persen melebihi pesaingnya. Pertumbuhan net income Phapros mencapai 153,55 persen, jauh melampaui perusahaan farmasi sejenis.”
Zahmilia Akbar, Corporate Secretary PT Phapros Tbk, mengungkapkan bahwa pandemi telah berdampak besar pada sektor farmasi dan industri lainnya. Dampaknya mendorong Phapros untuk beradaptasi dengan hal-hal baru, termasuk digitalisasi operasional.
“Selama lockdown di beberapa negara seperti India, China, dan Eropa, produksi kami terpengaruh terutama dalam pengadaan bahan baku. Kesulitan impor bahan baku mempengaruhi rantai pasokan dari hulu ke hilir, ditambah dengan fluktuasi mata uang terhadap dolar AS.”
“Produk andalan kami seperti Antimo mengalami penurunan penjualan selama pandemi, terutama karena dampak pembatasan perjalanan. Namun, produk multivitamin seperti Becefort justru mengalami pertumbuhan signifikan karena permintaan meningkat terkait Covid-19.”
“Kami melakukan penataan portofolio dari produk resep menjadi multivitamin. Transformasi ini juga melibatkan penggunaan teknologi digital untuk pemasaran. Fokus kami adalah pada produk yang memberikan keuntungan bersih yang terbaik.”
Zahmilia menambahkan, “Hasil dari strategi ini terlihat dari pertumbuhan produk generik yang mencapai 29,3 persen, sementara pertumbuhan nasional hanya 15 persen. Strategi ini membuktikan bahwa Phapros tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang selama pandemi.”
PT Phapros, Tbk merupakan perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia yang didirikan pada 21 Juni 1954. Saat ini, sahamnya dimiliki oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk sebesar 56,7 persen dan sisanya dimiliki oleh publik. Phapros memproduksi lebih dari 250 jenis obat, termasuk produk unggulan seperti Antimo. (mad/hdl)









