Washington DC (pilar.id) – Pemerintah Tiongkok melalui Kedutaan Besar Tiongkok di Amerika Serikat membantah keras tuduhan yang dilayangkan oleh Microsoft terkait dugaan keterlibatan negara tersebut dalam serangan siber terhadap server SharePoint milik perusahaan teknologi raksasa asal AS itu.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (23/7), sebagai respons terhadap unggahan blog Microsoft sehari sebelumnya yang menyebut dua kelompok peretas yang dikaitkan dengan negara Tiongkok—Linen Typhoon dan Violet Typhoon—telah memanfaatkan celah keamanan pada server SharePoint yang terhubung ke internet.
Microsoft juga menyatakan adanya kelompok ketiga asal Tiongkok yang turut mengeksploitasi kelemahan serupa.
Tiongkok: Tuduhan Tanpa Bukti Konkret!
Liu Pengyu, juru bicara Kedutaan Tiongkok di Washington D.C., menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Tiongkok juga menjadi korban serangan siber.
“Serangan siber adalah ancaman bersama yang dihadapi oleh semua negara. Tiongkok dengan tegas menentang dan memberantas segala bentuk serangan serta kejahatan siber,” ujar Liu.
Ia menambahkan bahwa menuduh negara lain tanpa bukti yang sahih adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak membantu dalam upaya bersama menciptakan ruang digital yang aman.
Zero-Day Exploit di SharePoint
Microsoft sebelumnya mengumumkan telah menemukan adanya zero-day vulnerability—celah keamanan yang belum diketahui publik dan belum memiliki tambalan—pada SharePoint Server versi lokal (on-premises). Celah ini telah dieksploitasi secara aktif oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Perusahaan memastikan bahwa layanan SharePoint Online tidak terdampak oleh serangan tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, Microsoft telah merilis pembaruan keamanan menyeluruh untuk seluruh versi SharePoint Server yang masih didukung, termasuk Subscription Edition, 2019, dan 2016.
Ketegangan Siber AS-Tiongkok Berlanjut
Tuduhan terhadap Tiongkok dalam isu siber bukan pertama kali terjadi. Hubungan antara Washington dan Beijing dalam sektor teknologi dan keamanan digital terus mengalami gesekan dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait dugaan spionase dan serangan digital terhadap infrastruktur penting.
Sementara itu, Tiongkok berulang kali menyatakan komitmennya terhadap keamanan siber global dan menolak segala bentuk pelabelan atau fitnah tanpa dasar yang jelas.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas kerentanan digital, tuduhan saling serang antarpemerintah menunjukkan bahwa isu keamanan siber telah menjadi bagian dari dinamika geopolitik. Transparansi, kerja sama internasional, dan bukti yang valid menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah ini secara adil dan konstruktif. (mad/hdl)










