Surabaya (pilar.id) – Sekolah, tak hanya merupakan tempat seorang anak belajar teori melalui buku atau materi yang disampaikan oleh guru saja. Namun juga sebagai tempat membentuk ataupun mengembangkan keahlian lainnya.
Hal itulah yang coba diwujudkan oleh Sekolah Dasar (SD) Surabaya Grammar School (SGS) dalam programnya yang bernama Project Based Assesment (PBA) Exhibition, yang untuk pertama kalinya digelar pada Jumat (3/06/2022) di Surabaya Grammar School, Bukit Mas Primary Building, Surabaya.
Seperti yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SD SGS, Feriana Susanti, S.Pd, M.M, jika ide dalam pembuatan program tersebut baru muncul ketika awal pandemi yang membuat program tersebut tak kunjung terealisasi
“Sekarang pandemi sudah melandai, akhirnya kita berani membuka program ini untuk pertama kalinya,” ujarnya. Ditambahkan, jika tujuan digelarnya program PBA yang nanti akan rutin di gelar tiap tahunnya ini, agar siswanya setelah lulus dari SGS memiliki keterampilan atau life skill dan siap dengan edukasi 4.0.
Acara yang diikuti oleh seluruh kelas dari 1 sampai 6, secara individual ini, memiliki perbedaan. Seperti yang dijelaskan Feriana, jika untuk kelas 1 hingga penyajian presentasinya menggunakan bahasa Inggris yang sesuai dengan standar SGS.
Sedang untuk kelas 6, acara tersebut merupakan pengganti Sebagai pengganti Ujian Nasional, yaitu untuk melengkapi satu dari lima pilihan project yang sudah disediakan, serta dipresentasikan menggunakan bahasa Indonesia untuk penilaian Nasional.
Selain itu, ia juga memaparkan bila acara ini telah terintegrasi dengan program Pemerintah Kota (Pemkot) melalui dinas pendidikan kota, yaitu UKK (Unjuk Kerja dan Karya).
Adapun ke lima project tersebut diantaranya, membuat miniatur kebun binatang, cookies, miniatur rumah 3 dimensi, menanam dari biji-bijiam dan membuat pakaian dari barang bekas.
“Kelas 6 yang ikut ada 130 siswa, rata-rata anak lebih memilih membuat cookies, yang mungkin dirasa lebih mudah untuk dilakukan,” ujar wanita 46 tahun ini.
Dalam program ini, Feriana menyampaikan jika turut mengadopsi Sistem Edukasi STEAM, yaitu S (Science), T (technologi), E (Engineering), A (Art), M (Math).
” Seperti membuat cookies sciencenya mengetahui dari tepung, bisa jadi cair, lalu keras, technologinya mereka buat presentasi, engineering dari memperkirakan isi toples, art dalam menghiasi toplesnya, dan math dalam menghitung komposisinya,” jelasnya.
Tak hanya itu, Astrini sebagai wali kelas 6.6 ini juga dibuat kagum dengan hasil tangan para muridnya yang mampu diselesaikan dengan kurun waktu sebulan.
“Meski dilakukan sendiri, hasilnya sangat bagus, mereka tidak asal-asalan dalam membuat project ini, benar-benar se serius itu mereka melakukannya,” ujarnya senang
Adanya acara ini, Feriana berharap kedepan para murid lain, seperti kelas 1 sampai 5 dapat belajar dari kakak kelasnya agar lebih baik, serta meminta para orang tua murid untuk lebih banyak datang
” Lebih banyak lagi orang tua yang datang untuk mengapresiasi project anak-anak mereka dan masyarat sekitar, serta guru atau siswa dari sekolah lain, bisa kita undang untuk acara ini kedepan,” tutupnya. (jel/hdl)


