Jakarta (pilar.id) – Remaja adalah generasi penerus yang akan membangun bangsa. Di era serba digital seperti sekarang, penggunaan gawai seakan menjadi kebutuhan. Namun, kecanduan gawai yang berlebihan pada remaja dapat menimbulkan dampak negatif.
Survey Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2017, bahwa 60 persen pengguna gawai adalah anak usia 9-19 tahun. Selain hal positif, di dalam gawai juga terdapat hal negatif. Kasus-kasus negatif di masa remaja juga banyak disebabkan oleh gawai.
Praktisi psikolog anak dan remaja Alzena Masykouri menilai, istilah kecanduan atau adiksi secara klinis digunakan pada aktivitas bermain gim online. Dengan begitu, dapat memengaruhi fungsi sosial dan fisik seseorang.
“Paparan pengaruh negatif penggunaan gawai pasti memengaruhi perilaku dan keseharian individu. Hal ini juga berlaku pada remaja,” kata Alzena kepada Pilar.id Jumat (3/12/2021).
Bila paparan negatif gawai bersifat pornografi, biasanya remaja akan menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap sesuatu yang terkait pornografi. Bisa berupa candaan hingga celetukan yang mengandung unsur seksual, dan semacamnya.
Apabila dampak negatif gawai tidak segera ditanggulangi, anak remaja akan memiliki rasa tidak nyaman berada di lingkungan sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat. Karena merasa tidak nyaman itu, sering kali anak remaja malah menarik diri atau mengasingkan diri dari lingkungan.
Untuk mencegah dampak negatif penggunaan gawai berlebihan, kata Alzela, orang tua harus tegas dalam memberikan batasan. Serta memberikan alternatif kegiatan bagi anak remaja, terutama yang membutuhkan gerak tubuh.
“Karena alasan yang sering muncul pada anak remaja ketika memainkan gawai adalah untuk menghilangkan bosan,” kata dia.
Sementara itu, psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta, Wahyu Aulizalsini menilai, konsep diri seorang individu menjadi satu masalah penting yang patut menjadi perhatian, guna memunculkan perilaku positif pada remaja.
“Konsep diri merupakan gambaran dari keyakinan yang dimiliki tentang diri mereka sendiri secara luas baik mengenai fisik, psikologis, sosial dan emosional,” kata Liza. (her)

